Pages

Friday, April 18, 2003

Catatan untuk Sepilihan Sajak Nanang: Banyak Ruang Terbuka

Catatan untuk Sepilihan Sajak Nanang: Banyak Ruang Terbuka

Oleh: Sutan Iwan Soekri Munaf

Berhadapan dengan sajak tidaklah sama dengan berhadapan dengan prosa, baik cerita maupun tulisan bentuk lainnya. Bermuka-muka dengan sajak akan menguak pengalaman batin dan pengetahuan pikir serta kemampuan berimajinasi. Jika berhadapan dengan prosa, baik cerita maupun tulisan lainnya, akan terkuak pesan yang ingin dikomunikasikan pengarangnya kepada pembaca, berhadapan dengan sajak maka pembacalah yang diharapkan proaktif menguak pesan yang akan disampaikan penyairnya. Pasalnya, dalam sajak itu banyak ruang terbuka, mengutip kalimat dalam sajak Nanang Suryadi berjudul “Intro” (hlm. 11).

Paling tidak, itulah titik berangkat saya saat berhadapan dengan sepilihan sajak Nanang Suryadi berisi 99 sajak dalam kumpulannya berjudul Telah Dialamatkan padamu, terbitan Dewata Publishing tahun 2002 lalu. Saat berhadapan dengan Telah Dialamatkan padamu itu, saya pun diantarkan oleh Ahmaddun Y. Herfanda lewat tulisannya “’Erotisme Religius' Sajak Nanang”. Namun demikian, tetap saya mencoba mencari kuakan untuk mencapai pesan yang akan disampaikan sang penyair. Paling tidak juga, ini sesuai dengan pernyataan Ahmaddun yang mengutip pendapat Suminto A. Sayuti bahwa kemungkinan tafsir puisi bergantung pada kekayaan intelektual pembacanya.

Bermuka-muka dengan sajak Nanang, agaknya kita berhadapan dengan “buku pengalaman dan pengetahuan” yang terbuka dari seorang anak manusia. Keluh kesah, sedu sedan, suka duka, riang gembira, harapan, kenyataan, dan banyak lagi tercatat pada kepingan-kepingan sajak Nanang. Boleh dikatakan, berhadapan dengan sajak Nanang, kita akan mendapatkan kisah panjang dari episode perjalanan hidup. Tidak saja berjalan sekadar, tetapi juga berjalan mencari. Boleh jadi pencarian itu tanpa henti. Pencarian itu akan selesai atau tak akan pernah selesai, siapa berani menduga?

Jika Ahmaddun merasakan getar religius ketika berhadapan dengan sajak Nanang sehingga mengingatkan Ahmaddun terhadap sufistik pada era 1980-an, saat bermuka-mukaan dengan sajak Nanang, saya justru merasakan terdapat kepolosan seorang anak manusia mencatat setiap kejadian dalam dirinya. Entah catatan itu berupa pertanyaan, pernyataan, entah pula berupa bentuk-bentuk godaan yang akan dieksplorasi pada saat mendatang. Boleh jadi, getar keimanan seorang Nanang sebagai makhluk Tuhannya bergelora dan bersenyawa dengan kelajangan seorang perjaka tingting yang sibuk mengolah lahan cintanya terhadap gadis, sehingga melahirkan dugaan Ahmaddun bahwa Nanang itu penyair erotisme religius. Tapi, boleh jadi Nanang yang seorang lajang dan suka masuk ke dunia maya di internet, menguak situs XXX dan seluruh denyar darah dalam aortanya terpengaruh untuk menggerakkan jemarinya menekan tuts di keyboard untuk melahirkan sajaknya. Namun, sebelum sajak itu benar-benar lahir, kenakalan Nanang sebagai cyborg muncul, dia ubah huruf K dan M yang kecil tadi dengan huruf besar, seperti sajak bertajuk “Penari Telanjang” pada halaman 88 buku itu yang dicontohkan Ahmaddun. Tentu saja berubah segala maknanya.

Pertanyaannya, apakah betul begitu kejadiannya? Tentu hanya Nanang Suryadi, sang penyair, yang bisa menjawab. Namun, saat berhadapan dengan sajak, sah saja pembaca menguak berbagai kemungkinan dalam menukik ke dalam sajak, bahkan hingga yang paling tidak mungkin sekalipun. Apakah perlu sama hasil yang dikuak seorang pembaca dari sajak yang bermukaan dengannya, dengan pesan yang disampaikan penyairnya lewat sajak itu? Agaknya, dengan pengalaman dan pengetahuannya, pembaca boleh jadi berbeda dengan penyair. Sah saja pembaca menangkap pesan yang berbeda dengan pesan yang dimaksud penyairnya. Lantas, akan gagalkah penyairnya manakala pesan yang dikomunikasikannya lewat sajak, ternyata ditangkap berbeda oleh pembacanya? Pembaca bukanlah papan sasaran tembak yang diam di tempatnya, melainkan manusia yang bergerak baik rasa maupun pikirannya. Karena itu, perbedaan itu tentu tidak membawa arti bahwa penyair gagal mengkomunikasikan pesannya. Malah bisa saja itu justru makin memperkaya pemaknaan terhadap sajaknya. Hal ini, misalnya pada sajak “Aku” karya Chairil Anwar. Kau dalam sajak itu boleh berarti ‘orang kedua’. Namun, jika kata itu dibaca menjadi Ka – u, dalam bahasa Minangkabau itu artinya ‘orang kedua berjenis kelamin perempuan’. Apalagi kita mengetahui, Chairil berdarah Minangkabau dan pernah di Medan. Ucapan Ka – u di Kawasan Minangkabau maupun di Kota Medan sudah menjadi hal yang lumrah.

Catatan perjalanan Nanang dalam pencarian itu, sebagai salah satu contoh, adalah yang berjudul “Mencintamu adalah Mencintai Aliran Air Tak Henti Mengalir” (hlm. 34).

dimana kau sampai. sepi juga kiranya mendekapmu malam ini. kemana kau
kan sampai. mimpi juga yang melambungkan angan. sepanjang titian. ada
harap yang kan pudar. kan pudar.

"biarkan mengalir sebagai air," katamu

ya, mencintaimu adalah mencintai air tak henti mengalir. dimana kau kan
sampai. di muara yang satu di laut keabadian? ah, tapi kau rindu juga
matahari!

Catatan perjalanan Nanang dalam setiap sajaknya tampak bernas. Sarat dengan pengalaman, diikuti pengetahuan serta harapan-harapan maupun kenyataan-kenyataan dalam lintasan hidupnya. Barangkali itu hanya catatan kecil bagi orang lain, tetapi mikroskop jiwa Nanang mengamati setiap gerak, tindak, maupun kejadian yang menghampirinya. Dan catatan-catatan kecil tadi dituliskan dengan bahasa sederhana. Kata-kata menjadi lentur di tangan Nanang, sehingga sajaknya mengalir begitu saja.

Sebagai pencatat yang baik dalam perjalanan hidupnya, dalam sajaknya “Berhentilah!” (hlm. 69), Nanang secara jujur mengungkapkan bagaimana dia terpengaruh Sutardji Calzoum Bahri. Aroma sajak Nanang itu memantulkan ritmis khas Presiden Penyair Indonesia itu.

berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang-bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam

begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara

metamorfosis? Seperti kupu telur ulat kepompong kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu

berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel pipi
kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur

berhentilah!

Betul. Pengaruh sah saja pada proses kepenyairan. Kendati pada Nanang pengaruh Sutardji cukup kental, sajak Nanang itu bukanlah sajak sekadar. Sajak itu memantulkan bagaimana Nanang mempelajari kredo Sutardji tentang pembebasan kata. Kata menjadi kata. Bukan lagi kata yang merupakan kumpulan huruf yang menghasilkan makna. Boleh jadi, Nanang menangkap pelajaran itu dan hasilnya adalah sajak “Berhentilah!”.

Keterpengaruhan Nanang bukan semata-mata dari Sutardji. Pencarian Nanang terpantul pada sajaknya, antara lain, “Jalan Cinta” (hlm. 82), “Dimana Engkau” (hlm. 83), “Tawanana Cahaya” (hlm. 84), dan “Kaulah Segala Takjub” (hlm. 93). Pencarian ini barangkali yang menguatkan dugaan Ahmaddun akan kereligiusitasan Nanang, dalam bayang-bayang penyair sufi tahun 1980-an, yang pada tahun 2000-an ini masih membekas, antara lain, pada Acep Zamzam Noor dan Ahmaddun Yosie Herfanda. Percakapan penyair dengan Sang Khalik tak jarang mencapai tingkat “mabuk berat”.

Nanang terbuka dalam sajaknya. Dan keterbukaan yang transparan itu tampak dalam sajaknya berjudul “Mawar” (hlm. 92).

"akulah mawar, duri lukai jemari
darah netes pada kelopak

rasa sakit tahankan
bukankah kau tulus mencintai"

duh, tanyamu! duh, tawamu!

Catatan hidup Nanang diungkapkannya dengan mengambil lambang percintaan. Mawar, duri, kelopak, jemari, darah, sakit, tulus, cinta…. Semua berpadu menjadi “ratapan dalam” yang ingin saja meledak dilepaskannya, tapi dilepaskannya hanya dengan dua kalimat: duh, tanyamu! duh, tawamu!

Paling tidak, dalam kumpulan ini Nanang menampakkan sosoknya sebagai penyair imajis. Tentu saja tidak pada sajak “Mawar” saja. Hampir pada setiap sajak Nanang, imaji nyaris menjadi kekuatan utamanya. Jadi, tidaklah aneh jika Nanang mengatakan dalam “Intro” (hlm. 11):

aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka

terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada

mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka

berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata

tak bisa sembunyi
pura-pura

Sajak memang penuh ruang terbuka. Namun penyair akan sejujurnya mengungkapkan gagasan-gagasan dalam sajaknya, sehingga pada bening mata tak bisa sembunyi pura-pura. Paling tidak, itulah Nanang Suryadi, kelahiran Serang, 8 Juli 1973, staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, kini masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Indonesia.

Bekasi, Januari 2003


Monday, April 14, 2003

Membaca Nanang Suryadi, Menemukan Penari Telanjang

Membaca Nanang Suryadi, Menemukan Penari Telanjang

Oleh: Asep Sambodja

Dalam kumpulan sajak Nanang Suryadi yang kelima, Telah Dialamatkan Padamu" (Dewata Publishing, Jakarta, 2002), kita bisa menemukan bait pembuka dalam sajak "Intro", aku tak mengerti, katamu/ pada sajak banyak ruang terbuka, sebagai isyarat dimulainya pembacaan sajak-sajaknya yang terhimpun dalam buku ini. Bukan saja untuk mengungkap misteri dari sajak-sajak yang terdapat dalam kumpulan sajak ini, karena pembaca sastra tidak melulu sebagai pengejar amanat, melainkan juga mengikuti petualangan yang mengasyikkan bersama penyair dalam memainkan kata-kata hingga pada sajak terakhirnya yang berjudul "Epilog", yang dua bait terakhirnya berbunyi Demikianlah, sunyi tak terbagi/ Milikku sendiri.

Ada semacam rekayasa yang dihadirkan sang penyair (agar pembaca mau) untuk menemaninya bertualang di lautan kata-kata, belantara kata, samudera kata, bahkan gurun kata-kata yang sunyi sepi. Dan petualangan itu merupakan proses yang memperlihatkan pencarian (sekaligus penemuan) eksistensi diri yang tak lagi terbagi.

Dalam proses yang panjang melewati 100 sajak sepi, yang tidak semuanya bertarikh, ada beberapa capaian yang didapati Nanang. Salah satu di antaranya adalah sajak "Telah Dialamatkan Padamu", yang juga menjadi judul buku ini. Selengkapnya sajak itu saya kutip di bawah ini:

telah dialamatkan padamu sunyi lelaki, membaca huruf timbul tenggelam pada
pelupuk, tak dilupa juga peristiwa demi peristiwa, berguliran

kemana kita akan sampai, buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik kertas
terselip; aku merindukanmu

ah, omong kosong apalagi yang akan kutuliskan? seperti ada yang ingin
diledakkan di dadaku, ke dalam otakku

telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga
makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!


Pengalaman paling berat yang dirasakan penyair adalah ketika ia harus menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Sama sulitnya ketika kita dihadapkan pada pertanyaan kenapa kita mau menjadi penyair, sedangkan kehadiran kita di dunia ini sama sekali tidak jelas asal-usulnya. Kelahiran kita di dunia merupakan sebuah ketelanjuran yang tidak kita inginkan sendiri, yang tidak bisa kita rancang sendiri. Demikian pula menjadi seorang penyair. Menjadi seorang penyair lebih merupakan kutukan ketimbang simbol kehormatan—seperti pahlawan-pahlawan yang telah dikuburkan, misalnya.

Dalam sajak itu, Nanang Suryadi sudah merasakan adanya kutukan semacam itu, telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga makian. Dan sebagaimana nenek moyangnya, Nanang pun dengan terpaksa ataupun dengan suka cita menjalani kehidupan yang sunyi, dalam kesendirian maupun dalam suasana yang di mata orang awam (bukan penyair) dirasakan sebagai suatu kemeriahan atau sesuatu yang hiruk-pikuk, yang massal.

Dan betapa tersiksanya penyair ini ketika harus berhadapan dengan penari striptease ("Penari Telanjang"), karena yang dinikmatinya bukan lagi seorang perempuan yang berlenggak-lenggok, seperti Inul Daratista, Anissa Bahar, atau Liza Natalia yang bergoyang ngebor, dan kemudian perlahan demi perlahan menanggalkan pakaiannya satu demi satu hingga tanggal segala jenis barang produksi manusia. Tinggal tubuh ciptaan-Nya yang cemerlang, yang aduhai pedasnya.

Bukan seperti itu yang dirasakan Nanang, melainkan tak ubahnya seperti seorang sufi yang menafsirkan apa saja yang ada di hadapannya dengan sesuka hatinya, atau misalnya Sutardji Calzoum Bachri yang menenggak bir seperti menenggak air mineral, karena dia memperlakukan bir sebagaimana air putih.

Bagai seorang sufi(is), Nanang menangkap penari telanjang itu seperti melihat Tuhan, dan berharap perempuan (Tuhan) itu terus menari, hingga mengencang syahwat/ serindu-rindu akan wajah Kekasih… Dan kau kulepas segala tabir rahasia/ hingga inti hingga tiada lagi jarak.

Yang mencurigakan—atau barangkali begitulah pandangan seorang penyair sufi—, penari telanjang itu akhirnya 'sirna dan tiada'. Ahmadun Yosi Herfanda yang memberi “Kata Pengantar” buku ini, terutama saat berhadapan dengan sajak "Penari Telanjang", menilai Nanang telah melakukan lompatan sufistik dari hubungan yang imanen ke yang transenden ketika Nanang menggunakan huruf kapital K (Kekasih), M (-Mu), dan N (-Nya), tapi Nanang tidak menuntaskannya hingga baris terakhir.

Baris terakhir yang berbunyi 'sirna dan tiada' memang menimbulkan multitafsir. Bisa saja kata-kata itu diartikan sebagai Tuhan telah mati, atau jarak antara aku-Tuhan yang sirna dan tiada? Jika jarak yang dimaksud demikian, dapatlah Nanang Suryadi digolongkan sebagai penyair sufi (muda) dari generasi cyber di Indonesia, yang sama golongannya dengan Hamzah Fansuri, Abdul Hadi WM, dan Al Hallaj. Jika tidak demikian, apakah Nanang masuk dalam golongan "kedua", yakni golongan Nietzsche atau bahkan golongan Firaun dan Gatholoco? Tentu tidak sesederhana itu. Bisa saja Nanang menjadi dirinya sendiri.

Sajak-sajak yang terhimpun dalam buku ini didominasi oleh suasana sepi, suasana pertapaan, pencarian jejak, pencarian asal diri. Dalam salah satu sajaknya, "Mencatatkan Alamat", Nanang menuliskan demikian:

Telah kucatatkan alamat pada alir air
Mungkin sampai pada laut. Carilah

Atau pada matahari atau pada awan atau pada hujan

Di situ kugambar peta,
mungkin kenang sehalaman sorga

Rumah yang telah ditinggalkan lama


Pencarian semacam ini memang sudah lazim atau sudah galib dilakukan banyak penyair, meski Nanang melukiskannya dengan cara yang lain dari penyair-penyair seniornya. Berikut saya kutipkan sebuah sajak utuh Sapardi Djoko Damono yang sangat intens, yang menggambarkan asal-usul manusia hingga sampai ke bumi jelata.

JARAK

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong-sepi….

Sajak Sapardi ini menggambarkan dengan jelas betapa kehadiran manusia di bumi sudah demikian tidak berjarak dengan sejarah manusia pertama, Adam, yang 'mengabur' seperti 'dalam dongengan'. Dan meskipun kita menatap ke "atas" sana, tetap tak terjawab dengan segera, dan Nanang menegaskannya seperti Rumah yang telah ditinggalkan lama.

Berbeda dengan Sapardi Djoko Damono dan Nanang Suryadi yang sedang dibicarakan di atas, penyair kita Chairil Anwar tampaknya masih menyangsikan apa yang dinamakan surga (Rumah yang pernah ditinggalkan Adam). Dalam sajak berjudul "Sorga" yang ditujukan kepada pelukis Basuki Resobowo, Chairil Anwar menulis demikian:

Seperti ibu nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya
kerlingnya Yati?


Chairil tampaknya hendak meledek, atau mungkin bertanya (karena tidak pernah ke surga), kalau kita tercebur ke dalam sungai yang penuh susu, bisakah mengering seperti saat kita kecemplung di laut biru? Atau, apakah malah tidak lengket? Dan Chairil pun bertanya bagaimana pelabuhan-pelabuhan di surga? (Apakah kapal-kapal juga akan bertambat di lautan susu?—pertanyaan duniawi). Sementara menyangkut bidari, Chairil yang biasa bergaul dengan perempuan-perempuan di Stasiun Senen mempertanyakan apakah bidadarinya juga bersuara ngebas seperti Nina dan kerling matanya menggoda seperti Yati? Ada-ada saja.

Sebenarnya masih banyak sajak Nanang yang menarik untuk dibicarakan, misalnya dengan membandingkannya dengan sajak-sajak Nanang sebelumnya, atau membandingkannya dengan sajak-sajak penyair generasi cyber, seperti—untuk menyebut beberapa nama saja—Medy Loekito, Saut Situmorang, Heriansyah Latief, Rukmi Wisnu Wardhani, Hasan Aspahani, Indah Irianita Putri, Katrin Bandel, Tulus Widjanarko, Henny Purnama Sari, Cecil Mariani, Iwan Sutan Soekri Munaf, Cunong Nunuk Suraja, Yono Wardito, TS Pinang, Ibnu HS, Hadi Susanto, Fati Soewandi, SN Mayasari, Winarti, Gita Romadhona, Qizink La Aziva, Ben Abel, Kuswinarto (Yaqin Saja), dan Ali Syamsuddin. Tapi karena sebuah petualangan memerlukan akhir, tulisan ini pun memerlukan titik.

Dibandingkan dengan sajak-sajak Nanang sebelumnya, seperti dalam kumpulan sajak Silhuet Panorama & Negeri yang Menangis, misalnya, tampak bahwa Nanang Suryadi sudah memiliki gaya pengucapan yang matang. Berikut saya tuliskan sebuah sajak utuh dari buku Telah Dialamatkan padamu, yang mewakili gaya pengucapan sebagian besar sajak terbaru Nanang.

<i>Dan Akupun Menyerah

Hingga jam-jam kabarkan kebosanan pada detak penantian
Tapi siapa yang sanggup tunjukkan arah pulang

Kembali menjenguk wajah sendiri
Demikian memar membiru kesedihan biluri hari

O kesah siapa dicatat pada diri
Hingga muntah aku dimabuk puisi meresah lelah

Ayun ambinglah, larutkan aku
Dalam arus waktumu

Aku menyerah!

Citayam, Februari 2003



Saturday, April 05, 2003

Nanang Suryadi: Arthur Rimbaud Nusantara!

Nanang Suryadi: Arthur Rimbaud Nusantara!

Oleh: A. Kohar Ibrahim

Di tengah malam sunyi sepi timbul kegairahan, sekalipun di luar langit hitam kelabu keputihan cahaya bumi berselimut salju. Dingin sekali. Selagi dimamah rindu pada Srikandi penggenggam pena di Nusantara, membuka jendela kaca ordina, kudapati sepucuk surat elektronika berisi undangan yang segera menghangati pikiran dan hati.

Maka aku sambut senang undangan itu, apalagi yang datang dari seorang penyair bernama Nanang Suryadi. Untuk menikmati sajiannya berupa kumpulan puisi (kupuisi) berjudul Telah Dialamatkan padamu terbitan Dewata Publishing akhir tahun lalu.

Kupuisi yang sampulnya indah berupa komposisi paduan yang kontras clear-obscur (gelap-terang), lembut tegar, berat ringan itu memang membikin orang seperti saya segera merasa tergelitik. Senang dalam menikmatinya. Dari bagian pertama sampai yang akhir. Suatu paduan yang hamornis lagi logis isinya aneka ragam warna dengan segala nuansa perasaan dan pemikiran.

Betapa tidak. Tiap kata yang dikomposisi bagi judul buku itu sendiri adalah berupa pertanda dari tiap rangkuman kreasi puisinya. Sepintas kilas, terkesan seperti seenaknya saja Nanang mengkomposisi kata demi kata sedemikian rupa, hingga saya pun merasa keenakan menyimaknya. Langsung sekaligus simpatik menggugah: Telah dialamatkan padamu. Konkretnya, dan selengkapnya rangkuman-rangkuman itu adalah sebagai berikut:

(1) "Telah" : rangkuman terdiri dari 21 sajak. Salah satunya berjudul “Harap”:

Nasib siapa dipikul naik turun lereng terjal gunung berbatu / Tak ada serapah, hanya ketabahan pada terik

Angin yang panas dan debu hantarkan berita: / Di negeri kemarau, hujan adalah mimpi belaka

Tapi desir yang sampai pada telinga, mungkin bisikmu: / Sebuah harap, bukan hanya mimpi, mungkin laksana suatu ketika

Seperti kubaca mendung di matamu


(2) "Dialamatkan" : rangkuman terdiri dari 19 sajak. Salah satunya berjudul “Kau Tunggu”:

sebuah berita kau tunggu, dari rimba / mungkin pekik hewan, dengus angin, terkirim / ke dalam kamarmu yang hangat,

kau tetap menunggu, secarik kertas kumal / bertuliskan: jaga dirimu, sayang

begitulah, pada jarak, kau mengetahui / arti cinta dan kasih sayang

dengan harap dan kecemasan, kau tunggu / berita itu / selalu



(3) "Padamu" : rangkuman terdiri dari 24 sajak. Salah satunya berjudul “Perempuan Pagi Berwajah Puisi”:

aku merindukanmu, katamu, pada pagi di mana puisi meronta meluncur / mendesak menghancur melumat memabukanku. dengan terbata kubaca sepi / di wajahmu yang puisi. o, ribuan cahaya, berangkat dari pelupuk mata.

aku merindukanmu, katamu, seperti sepi yang menikam menghujam / menyayat menyadap semuruh tubuh. o, ribuan duka, berangkat dari pelupuk mata.

aku merindukanmu, katamu, pada hari yang senyap, tak ada bunyi / memecah dinihari, pagi di mana gelisahku sampai pada wajahmu. puisi



(4) "Sunyi" : rangkuman terdiri dari 16 sajak. Salah satunya berjudul “Tik Tak Tik Tak : 01.05”:

kau adalah keheningan pada malam aku berangkat ke dalam relung-relung sunyiku seperti kau biarkan aku dalam tanyaku sendiri. diam

adalah embun yang meluncur butir demi butir ke dalam sukma yang pedih ke dalam mulut haus. kau

sebatang pohon yang sedih dan berkibaran dalam udara kabarkan cerita itu dari rongga dadamu. ketulusan

air mata begitu cucur menumpah basah di sekujur riwayat manusia serunya. tubuh

kau gigil menatap arah tak tentu angin berputar cuaca bergantian arah tuju. aku

rindukan saja kenangan itu tapi jangan datang serupa jam berdebu buku menguning album. rebutlah

segala mimpi



(5) "Lelaki" : rangkuman terdiri dari 18 sajak. Salah satunya berjudul “Aku Adalah”:

aku adalah airmata / menetes begitu deras

aku adalah tarian / gelombang lautan

pada sembab mata / pada getar bibir

aku adalah gemericik air / hulu sungai

pada asin lidah / pada lapang hati

aku adalah tembang / menzikirkan nama kekasih

duh, begitu rindu



Dengan tambahan sebuah sajak, kupuisi itu seluruhnya merangkum 99 judul sajak. Memang enak disimak enak dilacak. Lembutnya seperti sepiring nasi putih, gurihnya seperti ikan lele, sedapnya seperti sambel ulek, sayur lodeh, segarnya seperti karodek, garingnya seperti kerupuk udang; nikmatnya seperti kopi es; harumnya seperti mawar seperti melati.

Kesan lainnya yang menyenangkan terletak pada gaya penuangan isinya yang enak-enak-an saja membikin saya keenakan juga. Seperti udara bebas beredar merdeka. Seperti air mengalir dari kali ke muara hingga laut bebas lepas. Mendasar. Mendalam. Meluas. Meninggi. Selagi mengingat keluhur-agungan Ilahi ataupun selagi merindukan sang kekasihi.

Semua puisi yang tersajikan ringkas-ringkas nyaris ada yang kepanjangan. Namun terasa sekali, betapa hebat dan kuatnya bahasa Indonesia—terutama penggunaan perbendaharaan kata-kata yang begitu kaya dan plastis—yang dikuasai seorang penyair macam Nanang yang blasteran Sunda-Jawa itu!

Sepertinya, bagi Nanang, hal-ihwal apa saja yang menarik hatinya bisa digubah dengan mudah menjadi sajak. Apa rahasianya?

"Menulis sajak bagiku menjadi semacam catatan bagi sejumlah pengalaman puitik," demikian antara lain pengakuan Nanang seperti diutarakan di layar kaca situsnya.

Selain itu? Apa lagi rahasianya yang penting?

"Sejak kecil," Nanang mengaku dalam suatu penuturan proses kreativitasnya sebagai sastrawan, "sejak aku dapat membaca buku dengan baik, mungkin kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar, aku membaca banyak buku-buku cerita kanak, majalah-majalah, koran yang ada di rumahku. Aku kira kebiasaan di waktu kecil itu berpengaruh banyak kepadaku untuk membuat karangan."

Suka atau kebiasaan membaca itu rupanya berkelanjutan sampai usia dewasa. Selain bacaan, rupanya mendengarkan dongeng atau kisah-kisah yang diutarakan abahnya juga mempengaruhinya secara positif. Dan dalam kenyataannya, seisi rumah, memang menyukai bacaan. Maklumlah. Kerna ortunya memang bekerja sebagai guru. Sang abah mengajar di SD dan SMP, sedangkan sang ibu mengajar sebagai guru agama di SD dan madrasah ibtidaiyah.

Alhasil, pengakuan seorang penyair macam Nanang yang senang membaca hingga mempengaruhinya menjadi pengarang itu memang pertanda penting untuk diperhatikan. Penting diteladani oleh penulis pemula. Kerna bisa dipastikan pula, semua pengarang besar juga sangat besar minatnya untuk membaca. Penting pula disadari oleh masyarakat yang luas akan manfaat yang positif bagi putra-putrinya yang sudah menyukai bacaan sejak masa kecil. Demi pertumbuhan kerohanian dan pencerahan serta perluasan wawasannya.

Pada segi lain, saya memperoleh kesan, bahwa Nanang Suryadi memang salah seorang penyair Indonesia yang produktif. Menulis sajak dimulai sejak masa duduk di bangku sekolah menengah atas. Kupuisi Telah Dialamatkan padamu yang diterbitkan oleh penerbit profesional Dewata Publishing itu merupakan pertanda penting dari kreativitasnya selaku penyair. Sebelum itu, kupuisi-kupuisinya yang masing-masing berjudul Sketsa, Sajak di Usia Dua Satu, Orang Sendiri Membaca Diri, dan Silhuet Panorama dan Negeri yang Menangis, semuanya diterbitkan olehnya sendiri dengan oplahnya paling banyak 200-an eksemplar.

Setelah memenuhi undangan Nanang seraya menikmati sajian tambahan lainnya pula, saya akui bahwa bukan jenuh kekenyangan, melainkan ketagihan yang saya rasakan. Saya coba mengenang Parahiyangan seraya berbisik dalam hati: "Telah lahir Arthur Rimbaud Nusantara: Nanang Suryadi. Kelahiran Serang 8 Juli 1973. Selamat Nanang!" ***

'Erotisme Religius' Sajak Nanang

'Erotisme Religius' Sajak Nanang

Oleh: Ahmadun Yosie Herfanda

‘Erotisme religius’. Barangkali ini istilah yang aneh. Mungkinkah sesuatu yang erotis – yang sangat profan – bisa bercitra religius? Sulit untuk menjawab ya. Tapi, ketika membaca beberapa sajak Nanang Suryadi yang terkumpul dalam buku ini, sebutan ‘erotisme religius’ itu sulit untuk dihindari. Simaklah, misalnya, sajak Penari Telanjang berikut ini,

Menarilah engkau dengan telanjang
Di matamu matahari di matamu rembulan
Dan hujan berderaian dan bintang berpendaran
Berderaian pelangi dikibas ke kiri ke kanan

Menarilah engkau
Berputar menggeliat gelinjang
Hingga mengencang syahwat
Serindu-rindu akan wajah Kekasih
Ah rintih: Kau rinduku! Mabuk kepayangku pada-Mu!
Wajah-Mu! Tatap-Mu selalu!
Dan kau kelupas segala tabir rahasia
Hingga inti hingga tiada lagi jarak
Sirna dan tiada


Sajak di atas sangat menarik dan bisa mengundang rasa penasaran pembaca. Tanpa menulis ‘Kekasih’ dengan ‘K’ besar, dan tanpa menulis ‘Mu’ dengan ‘M’ besar, sajak di atas cenderung akan mengesankan keterpesonaan Nanang pada seorang penari telanjang yang sedang menari erotis sambil melepaskan busananya sehelai demi sehelai (Dan kau kelupas segala tabir rahasia). Suatu inti dan imaji yang sangat profan, dan getaran keindahan yang lebih dekat dengan getaran seksual.

Namun, dengan ‘K’ besar pada ‘Kekasih’ dan ‘M’ besar pada ‘Mu’ itu terjadi sublimasi (pengagungan) yang cukup luar biasa pada sajak tersebut. Citra yang semula profan menjadi demikian religius. Kesan kekaguman pada penari yang imanen terangkat menjadi keterpesonaan pada keagungan Tuhan yang transenden. Kerinduan yang semula sangat fisikal dan mengencang syahwat pun tersublimasi menjadi kerinduan yang transenden pada wajah Tuhan (wajah Kekasih), dan ini adalah kerinduan yang sangat sufistik, seperti kerinduan seorang Rumi atau Hamzah Fansuri pada-Nya.

Memang, dengan sublimasi, di tangan penyair sebutir pasir pun dapat menjelma sebutir intan yang mulia. Dan, sublimasi yang paling umum adalah menuliskan kata ‘Mu’ dengan ‘M’ besar pada baris-baris sajak yang mungkin saja semula yang dimaksud ‘mu’ dalam sajak itu adalah seseorang atau kekasih dalam arti fisikal – yang berada di dunia profan. Dengan cara ini, seorang penyair yang rindu bercinta dengan kekasihnya (kerinduan biologis) dengan mudah dapat menulis sajak sufistik hanya dengan menuliskan ‘Kekasih’ atau ‘Mu’ dengan huruf awal kapital.

Sublimasi semacam itu sempat diperdebatkan pada akhir dasawarsa 1980-an, ketika kecenderungan sajak sufistik sedang menguat di negeri ini dan sempat memunculkan istilah ‘religiusitas yang instan’. Namun, ketika yang disublimasikan adalah sesosok penari telanjang yang sedang menggelinjang erotis, maka citra religius yang muncul menjadi sangat menggelitik dan mengundang rasa penasaran. Dan, itulah misteri yang menjadi kekuatan terpenting sebagian sajak Nanang. Seperti pernah dikatakan Sapardi Djoko Damono, puisi yang bagus (baca: indah), ibarat ‘sebiji kacang di balik kaca kristal’. Dari luar terlihat bahwa itu sebiji kacang, tapi tampak lebih indah, mungkin fantastik dan mempesona, seperti ada misteri, dari satu sisi seperti kembar, dari sudut pandang lain bisa tampak puluhan kacang, kadang-kadang samar atau gemebyar ketika ada pantulan cahaya dari luar. Sebiji kacang yang mempesona. Kacang itu adalah isi puisi, dan kaca kristal itu estetika puisi. Dan, ‘penari telanjang’ adalah biji kacang yang berhasil dibungkus Nanang dalam kaca kristal itu.

Tarian atau penari, agaknya, menjadi idiom penting sajak-sajak religius Nanang, dan ia berulang-ulang mengungkapkan keterpesonaan dan kemabukannya pada tarian Tuhan itu. Pada sajak Aku Gelandangan Mencari-Mu penyair yang menjadi motor Cybersastra.net ini juga mengulang idiom tersebut pada bait ketiga. Dan, citra ‘erotisme religius’ terpancar pada bait ini: Aku gelandangan terpesona tarian-Mu/ Membayang Engkau dengan birahi kepayang mabukku.

Pada sajak Mabuk Tarian yang terkesan agak lebih telanjang, Nanang bahkan tidak hanya terpesona, tapi mabuk tarian itu. Sajak ini seakan menjadi penegas bahwa yang dimaksud ‘penari’ dalam sajak-sajaknya adalah Tuhan Sang Mahapencipta.

Mabuk aku
Tarian-Mu memutar planet beterbangan
Mabuk aku
Tarian-Mu melesatkan bintang berpijaran
Mabuk aku
Tarian-Mu memusarkan galaksi beraturan
….


Kekuatan lain sajak-sajak Nanang dalam buku ini adalah getaran religiusitasnya yang sering terkesan sufistik. Kekuatan ini tidak hanya dapat dirasakan pada sajak-sajak yang ungkapan ‘kehadiran Tuhan’-nya (Mu, Engkau, Kekasih) ditulis dengan huruf awal kapital; tapi juga pada sajak-sajak yang baris-barisnya tanpa satupun huruf kapital. Pada sajak-sajak yang isyarat kehadiran Tuhannya (mu, engkau, kekasih), tidak ditulis dengan huruf awal kapital, misteri itu justru makin mempesona. Terutama, pada sajak-sajak yang tetap memanfaatkan keindahan ‘kaca kristal’ (style, poetika) untuk membungkus isinya. Pesona itu mencair ketika Nanang berlugas-lugas seperti pada sajak Mabuk Tarian di atas.

Lebih dari itu, masih banyak sisi menarik pada sajak-sajak Nanang yang layak untuk dibicarakan. Pengantar pendek ini tentu tidak dapat mengupas semuanya. Apalagi, puisi adalah sesuatu yang multi tafsir (multi-interpretable). Selain membuka kemungkinan banyak tafsir, ia – seperti pernah dikatakan A. Teeuw – juga membuka kemungkinan salah tafsir. Ada keyakinan – seperti berkali-kali dikemukakan Suminto A. Sayuti – bahwa kemungkinan tafsir puisi tergantung pada kekayaan intelektual pembaca. Semakin kaya pengetahuan pembaca akan makin dapat memberikan tafsir yang kaya pula pada puisi. Dan, itu pula yang dapat diberikan pada sajak-sajak Nanang yang umumnya memang kaya isyarat religiusitas.

Selain itu, puisi yang bagus diyakini akan mampu berdialog sendiri dengan pembacanya tanpa bantuan pengantar apapun dari kritisi sastra. Maka, Andalah, pembaca, yang paling berhak untuk menikmati, berdialog langsung, sekaligus memberi tafsir yang lebih kaya pada sajak-sajak Nanang dalam kumpulan ini.***