Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia” Oleh: Ben Abel Kali ini, “Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam ; Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka” -- dan dengan ini, Nanang memaksa yang dipaksa diri [sendiri] melangit. Seperti pernah kusampaikan bahwa sajak-sajak Nanang adalah sajak bujang. Ia tidak pernah menggunakan kata orang ketiga, seperti : Mereka, dan dia, maupun kata ganti jamak : Kami, atau kita. Tetapi selalu bersekitar antara kau dan aku, yang seolah hanya berbicara pada diri sendiri. Seperti kepeduliannya hanya didalam, dan tidak mempedulikan keribuatan yang di luar. Namun dalam sajak “Demikianlah Ia Berbahagia” ini seakan telah terjadi pengecualian yang terasa bukan saja sekedar lain. Tetapi menjadi bentuk lain dari intensitas kepenyairannya. "inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan kata yang mabuk" - mungkin kata "dan" disini maksudnya adalah "dengan" -jadi- ia menjadi " ...
Kritik Puisi, Kritik Sastra, Kritikus Sastra Menulis Kritik