Skip to main content

Posts

Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia”

Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia” Oleh: Ben Abel Kali ini, “Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam ; Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka” -- dan dengan ini, Nanang memaksa yang dipaksa diri [sendiri] melangit. Seperti pernah kusampaikan bahwa sajak-sajak Nanang adalah sajak bujang. Ia tidak pernah menggunakan kata orang ketiga, seperti : Mereka, dan dia, maupun kata ganti jamak : Kami, atau kita. Tetapi selalu bersekitar antara kau dan aku, yang seolah hanya berbicara pada diri sendiri. Seperti kepeduliannya hanya didalam, dan tidak mempedulikan keribuatan yang di luar. Namun dalam sajak “Demikianlah Ia Berbahagia” ini seakan telah terjadi pengecualian yang terasa bukan saja sekedar lain. Tetapi menjadi bentuk lain dari intensitas kepenyairannya. "inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan kata yang mabuk" - mungkin kata "dan" disini maksudnya adalah "dengan" -jadi- ia menjadi " ...

Telah Dialamatkan Padamu, Nanang Suryadi

Telah Dialamatkan Padamu, Nanang Suryadi Oleh: Asep Sambodja Ada sebuah potret yang memperlihatkan penyair Nanang Suryadi tengah membaca puisi. Ia mengenakan kaos oblong berwarna hitam bertuliskan Yayasan Multimedia Sastra (YMS). Dan puisi-puisi yang dibacakan berasal dari buku Graffiti Gratitude, buku antologi puisi pertama yang diterbitkan oleh YMS. Totalitas! Saya melihat totalitas Nanang Suryadi sejak awal, ketika bersama kawan-kawannya menghidupkan sebuah situs sastra nusantara Cybersastra.net. Tidak saja menerobos dunia cyber yang dapat dikatakan masih baru bagi sastrawan Indonesia, tapi ia sendiri menghidupi situs sastra tersebut, hingga bertahan hidup hingga saat ini. Dan salah satu bahan bakar yang menghidupi Cybersastra.net adalah totalitas Nanang Suryadi dalam kehidupan sastra. Saya sebenarnya malas memuji-muji orang, karena sering disalahtafsirkan sebagai pengkultusan. Padahal, tanpa pujian pun, sebenarnya sajak-sajak Nanang Suryadi telah mampu berdialog sendiri...

O Sajak O Apa O

Oleh: Agustinus Wahyono Semula, setelah menikmati ‘kata pengantar’, saya membuka sajak-sajak dalam buku Telah Dialamatkan Padamu secara cepat dan segera berlembar-lembar. Dari membaca cepat dan berlembar-lembar itu beberapa kali saya diperhadapkan dengan sebuah kata. Kata “O” (huruf vokal, ataukah juga malah bukan huruf melainkan angka nol?). Dari satu “O” berloncatan ke “O” lainnya; baik dalam satu sajak maupun berpindah ke sajak lainnya. Ada apa dengan “O”, kok suka sekali sang sajakis memakainya, pikir saya penasaran. Berikut-berikutnya saya pun menemukan sajak berjudul “O Mata”. Ya, “O Mata”, tampak jelas memakai kata “O” di daftar isi dan di halaman 18. Saya semakin penasaran saja, ada apa dengan “O”; apa yang hendak disampaikan oleh sajakis Nanang Suryadi (NS) melalui sajak-sajaknya. Maka, karuan saja saya cari jejak-jejak “O” pada sajak-sajak NS dalam antologinya itu. Satu per satu saya baca baik-baik, lalu saya hitung. Ternyata dari 99 sajak dalam buku tersebut te...

Telah Dialamatkan padamu Sepilihan Sajak Nanang Suryadi

Telah Dialamatkan padamu Sepilihan Sajak Nanang Suryadi Oleh: Cunong Nunuk Suraja Membaca judul buku kumpulan puisi Nanang, selintas kita sudah terikat pada kata "sepilihan", sebuah kata yang mengisyaratkan adanya kesatuan atau jumlah satu. Barangkali saja penyair akan mempunyai dua atau sekian pilihan. Penggunaan kata yang menabrak kaidah bahasa Indonesia ini akan kita jumpai dalam 100 sajak Nanang yang terpilih dalam buku puisi ini. Nanang sangat suka mengerjai kata dalam sajak-sajaknya dan ini merupakan hak penyair yang dikenal dengan poetic license. Untuk sekadar contoh, kita simak puisi-puisi berikut. terjemah kehendak, pada langit luas ………………………………………… mungkin cuma gurau melupa duka, karena ………………………………………… berabad telah lewat, apa yang ingin didusta? pada bening mata (Sajak “Intro”) Dalam darah buncah meruah gelombangkan gelisah kalut Seperti laut dalam tatapmu memagut. Demikian gairah meniada rasa takut ……………………………………… Ada ruang kosong....

Suryadian, Berkubang di Alamnya Sendiri

Suryadian, Berkubang di Alamnya Sendiri Oleh: Jibsail Penyair bermain dengan kegalauannya, itu biasa. Penyair bermain dengan kerinduannya, itu biasa. Penyair bermain dengan kesunyiannya, itu biasa. Bahkan tidak ada yang luar biasa ketika penyair berkubang dengan suka dan perihnya cinta yang dia rasakan. Berangkat dari biasa dan tidak adanya keluarbiasaan itu, adalah kita. Seberapa jauh kita berani membenamkan diri untuk menelusuri dan menyelami yang biasa dan tidak luarbiasa itu? Keberanian tersebut adalah kerapuhan. Dan kerapuhan dari keberanian tersebut adalah yang moment buat kita untuk hidup tangguh. Jadi, kerapuhan bukanlah petaka atau sumber dari segala bencana. Kerapuhan adalah mukjizat inspirasi; sumber dari segala improvisasi, seperti ketika penyair bermain dengan alamnya sendiri. 'Alam sendiri' adalah fenomena bahwa tidak ada yang lebih hebat di jagad ini. Tidak ada hal lain yang sanggup demikian kuat untuk berbuat sesuatu. Ada jalur yang begitu jelas...