Pages

Saturday, March 01, 2003

Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia”

Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia”

Oleh: Ben Abel

Kali ini, “Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam ; Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka” -- dan dengan ini, Nanang memaksa yang dipaksa diri [sendiri] melangit. Seperti pernah kusampaikan bahwa sajak-sajak Nanang adalah sajak bujang. Ia tidak pernah menggunakan kata orang ketiga, seperti : Mereka, dan dia, maupun kata ganti jamak : Kami, atau kita. Tetapi selalu bersekitar antara kau dan aku, yang seolah hanya berbicara pada diri sendiri. Seperti kepeduliannya hanya didalam, dan tidak mempedulikan keribuatan yang di luar.

Namun dalam sajak “Demikianlah Ia Berbahagia” ini seakan telah terjadi pengecualian yang terasa bukan saja sekedar lain. Tetapi menjadi bentuk lain dari intensitas kepenyairannya.

"inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan kata yang mabuk" - mungkin kata "dan" disini maksudnya adalah "dengan" -jadi- ia menjadi " "inilah upacara persetubuhan manusia sepi dengan kata yang mabuk" ---- di bulan Mei 2002 ini nanti sedang lalu, rupanya ada tingkat intensitas yang seperti : "Gemuruh meriuh dalam dada, berdebam suara membaur, gebalau kacau" pada kontemplasi itikad diri kepenyairan Nanang; Dalam "Demikianlah Ia Berbahagia" ini kata-kata bernada g e m p a r mengirama rasa g u s a r [nya]... lihatlah! Baris kata-kata berikut :

gemuruh,
debam,
tikam,
luka,
pukimak /1/
gairah,
sayat,
tusuk,
pisau,
goyang pinggul /2/

oh O puncak derita [selangit] adalah kebahagiaan; Kita tak tau apakah Nanang sedang muntah atau meludah. Karena kata-kata : Hampa, kosong dan gundah di bait awal, serasa mengabarkan rasa lapar, selangit pula. Tetapi jeret k a t a "tikam" berkali-kali, l a l u getir memuncak di pukimak dalam peluk-peluk yang menyayat, pada mata yang berkunang kenangan, dan gairah pisau [[[[[ bukan b e l a t i seperti pakem yuliet & romeo ]]]]]] yang menari-nari, menggeliat-geliat dengan raupan kata-kata [erotik] goyang pinggul [[[ mungkin yang terbayang adalah penyanyi dangdut ]]] semua menggambarkan pada kita adanya kecamukan berpendar disana. Mungkin rasa mual. Muak. Atau begitulah kesadaran yang dimuntahkan pada kegetiran. Dimana pahit beroleh manis berasa masam, diramu jadi satu kepastian nilai sebagai yang sekian diimpikan. Adalah “O puncak derita bahagia!”


Oi ! Sepi meracau, mabuk berebut menusuk, memeluk dalam kancah yang : "Gemuruh meriuh dalam dada, berdebam suara membaur, gebalau kacau" pada penyerahannya [takluk yang mengerti] pada intaian dalam, "inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan [atawa dengan] kata yang mabuk" --- Lalu penyerahan itu : t u s u k l a h, tusuklah, t-u-s-u-k-l-a-h, tusuk klimaks atawa orgasme satu kata menuju [pusara masa lalu?] ; "Tusuklah dadaku tusuklah di mana saja kau mau di mana saja kau suka." Satu penyerahan yang sekaligus menantang maju. Memaksa satu pentas bayangan proses gelut, pergulatan antara dua kutub,[bak putaran yin-yang, yang tak pasti titik hentinya]; Karena proses ini merubah [menabrak] semua kemapanan, kebiasaan, dan keseharian; Maka terasa meluka, mencabik, mendobrak dan meluluhlantak ...... gebalau kacau, gulana gundah, ditikam pisau, kata-kata yang bergoyang pinggul, mata mabuk dan mula-mula berkunang kenangannya. Semua seperti merajut diakhirnya menjadi "demikianlah ia berbahagia.” Karena impas semua gebalau itu ternyata tetap sama pada kehidupannya yang tetap antara : Derita dan bahagia, atawa bahagia dan derita [yin-yang berputar tak tentu titik hentinya]. Mungkin keruk kehidupan bagi seorang penyair adalah dari itu ke itu, namun pada kreatifitasnya ada penyerahan, seperti laku satu doa maupun pengharapan. Disini letak hubungan manusia dan kemanusiaan yang terkadang membuat syair seperti rintihan maupun doa-doa biasa, yang bertele-tele tetapi mempesona. Namun dalam "demikianlah ia berbahagia" pembaca dipaksa melangit, membaca tubuhnya sendiri yang dicabik luka, dan kembali dengan dua kaki yang menginjak dua timbangan, antara derita dan bahagia atawa bahagia dan derita.

“Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam
Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka”

Hasilnya [sambil menangkup doa] : “O puncak derita bahagia!” ---- memang [hal] bahagia tidak berpuncak, cuma selalu selangit rasa .... Sementara [hal] derita selalu seperti bergaris horison yang naik turun. Berpuncak dan berdatar, serta mencolok rasanya seperti roller coaster.

Bukan main … ah nang, kau akhirnya tidak bujang lagi ---- he he he ------ rasanya sajakmu yang ini telah menasbihkan kehendak tuju, melangit dan selangit sekaligus berodagila. Roller koster.

Tabik pembaca,
Ben abel

/1/ [[[[[[ kena rabies si saut ]]]]],
/2/ [[[[ erotika ala nabidapur daripada tanahdatar heri latief ]]]]],

At 12:52 PM 5/2/2002 +0000, you wrote:
Demikianlah Ia Berbahagia

Gemuruh meriuh dalam dada, berdebam suara membaur, gebalau kacau
Hampa pandang, tatap kosong, o mata, ceritakan gulana gundah

Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam
Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka

Demikian getir kekeh bahak memuncak puncak: oi sepi pukimak, peluk aku
Dan sepi memeluk dengan penuh gairah, menyayatnya dengan kenangan

Sambil menusuk hingga ke hulu, sepisau kenangan menari-nari kegirangan
Menggeliatlah menggeliatlah hingga kembali pada titik: mula-mula

Serangkum kata ikut menari, menggoyangkan pinggulnya ke sana ke mari
Meracau mabuk, berebut ingin ikut memeluk dan menusuk

O, inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan kata yang mabuk
Tusuklah dadaku tusuklah di mana saja kau mau di mana saja kau suka

O puncak derita bahagia!

Depok, 2 Mei 2002