Pages

Friday, April 18, 2003

Catatan untuk Sepilihan Sajak Nanang: Banyak Ruang Terbuka

Catatan untuk Sepilihan Sajak Nanang: Banyak Ruang Terbuka

Oleh: Sutan Iwan Soekri Munaf

Berhadapan dengan sajak tidaklah sama dengan berhadapan dengan prosa, baik cerita maupun tulisan bentuk lainnya. Bermuka-muka dengan sajak akan menguak pengalaman batin dan pengetahuan pikir serta kemampuan berimajinasi. Jika berhadapan dengan prosa, baik cerita maupun tulisan lainnya, akan terkuak pesan yang ingin dikomunikasikan pengarangnya kepada pembaca, berhadapan dengan sajak maka pembacalah yang diharapkan proaktif menguak pesan yang akan disampaikan penyairnya. Pasalnya, dalam sajak itu banyak ruang terbuka, mengutip kalimat dalam sajak Nanang Suryadi berjudul “Intro” (hlm. 11).

Paling tidak, itulah titik berangkat saya saat berhadapan dengan sepilihan sajak Nanang Suryadi berisi 99 sajak dalam kumpulannya berjudul Telah Dialamatkan padamu, terbitan Dewata Publishing tahun 2002 lalu. Saat berhadapan dengan Telah Dialamatkan padamu itu, saya pun diantarkan oleh Ahmaddun Y. Herfanda lewat tulisannya “’Erotisme Religius' Sajak Nanang”. Namun demikian, tetap saya mencoba mencari kuakan untuk mencapai pesan yang akan disampaikan sang penyair. Paling tidak juga, ini sesuai dengan pernyataan Ahmaddun yang mengutip pendapat Suminto A. Sayuti bahwa kemungkinan tafsir puisi bergantung pada kekayaan intelektual pembacanya.

Bermuka-muka dengan sajak Nanang, agaknya kita berhadapan dengan “buku pengalaman dan pengetahuan” yang terbuka dari seorang anak manusia. Keluh kesah, sedu sedan, suka duka, riang gembira, harapan, kenyataan, dan banyak lagi tercatat pada kepingan-kepingan sajak Nanang. Boleh dikatakan, berhadapan dengan sajak Nanang, kita akan mendapatkan kisah panjang dari episode perjalanan hidup. Tidak saja berjalan sekadar, tetapi juga berjalan mencari. Boleh jadi pencarian itu tanpa henti. Pencarian itu akan selesai atau tak akan pernah selesai, siapa berani menduga?

Jika Ahmaddun merasakan getar religius ketika berhadapan dengan sajak Nanang sehingga mengingatkan Ahmaddun terhadap sufistik pada era 1980-an, saat bermuka-mukaan dengan sajak Nanang, saya justru merasakan terdapat kepolosan seorang anak manusia mencatat setiap kejadian dalam dirinya. Entah catatan itu berupa pertanyaan, pernyataan, entah pula berupa bentuk-bentuk godaan yang akan dieksplorasi pada saat mendatang. Boleh jadi, getar keimanan seorang Nanang sebagai makhluk Tuhannya bergelora dan bersenyawa dengan kelajangan seorang perjaka tingting yang sibuk mengolah lahan cintanya terhadap gadis, sehingga melahirkan dugaan Ahmaddun bahwa Nanang itu penyair erotisme religius. Tapi, boleh jadi Nanang yang seorang lajang dan suka masuk ke dunia maya di internet, menguak situs XXX dan seluruh denyar darah dalam aortanya terpengaruh untuk menggerakkan jemarinya menekan tuts di keyboard untuk melahirkan sajaknya. Namun, sebelum sajak itu benar-benar lahir, kenakalan Nanang sebagai cyborg muncul, dia ubah huruf K dan M yang kecil tadi dengan huruf besar, seperti sajak bertajuk “Penari Telanjang” pada halaman 88 buku itu yang dicontohkan Ahmaddun. Tentu saja berubah segala maknanya.

Pertanyaannya, apakah betul begitu kejadiannya? Tentu hanya Nanang Suryadi, sang penyair, yang bisa menjawab. Namun, saat berhadapan dengan sajak, sah saja pembaca menguak berbagai kemungkinan dalam menukik ke dalam sajak, bahkan hingga yang paling tidak mungkin sekalipun. Apakah perlu sama hasil yang dikuak seorang pembaca dari sajak yang bermukaan dengannya, dengan pesan yang disampaikan penyairnya lewat sajak itu? Agaknya, dengan pengalaman dan pengetahuannya, pembaca boleh jadi berbeda dengan penyair. Sah saja pembaca menangkap pesan yang berbeda dengan pesan yang dimaksud penyairnya. Lantas, akan gagalkah penyairnya manakala pesan yang dikomunikasikannya lewat sajak, ternyata ditangkap berbeda oleh pembacanya? Pembaca bukanlah papan sasaran tembak yang diam di tempatnya, melainkan manusia yang bergerak baik rasa maupun pikirannya. Karena itu, perbedaan itu tentu tidak membawa arti bahwa penyair gagal mengkomunikasikan pesannya. Malah bisa saja itu justru makin memperkaya pemaknaan terhadap sajaknya. Hal ini, misalnya pada sajak “Aku” karya Chairil Anwar. Kau dalam sajak itu boleh berarti ‘orang kedua’. Namun, jika kata itu dibaca menjadi Ka – u, dalam bahasa Minangkabau itu artinya ‘orang kedua berjenis kelamin perempuan’. Apalagi kita mengetahui, Chairil berdarah Minangkabau dan pernah di Medan. Ucapan Ka – u di Kawasan Minangkabau maupun di Kota Medan sudah menjadi hal yang lumrah.

Catatan perjalanan Nanang dalam pencarian itu, sebagai salah satu contoh, adalah yang berjudul “Mencintamu adalah Mencintai Aliran Air Tak Henti Mengalir” (hlm. 34).

dimana kau sampai. sepi juga kiranya mendekapmu malam ini. kemana kau
kan sampai. mimpi juga yang melambungkan angan. sepanjang titian. ada
harap yang kan pudar. kan pudar.

"biarkan mengalir sebagai air," katamu

ya, mencintaimu adalah mencintai air tak henti mengalir. dimana kau kan
sampai. di muara yang satu di laut keabadian? ah, tapi kau rindu juga
matahari!

Catatan perjalanan Nanang dalam setiap sajaknya tampak bernas. Sarat dengan pengalaman, diikuti pengetahuan serta harapan-harapan maupun kenyataan-kenyataan dalam lintasan hidupnya. Barangkali itu hanya catatan kecil bagi orang lain, tetapi mikroskop jiwa Nanang mengamati setiap gerak, tindak, maupun kejadian yang menghampirinya. Dan catatan-catatan kecil tadi dituliskan dengan bahasa sederhana. Kata-kata menjadi lentur di tangan Nanang, sehingga sajaknya mengalir begitu saja.

Sebagai pencatat yang baik dalam perjalanan hidupnya, dalam sajaknya “Berhentilah!” (hlm. 69), Nanang secara jujur mengungkapkan bagaimana dia terpengaruh Sutardji Calzoum Bahri. Aroma sajak Nanang itu memantulkan ritmis khas Presiden Penyair Indonesia itu.

berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang-bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam

begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara

metamorfosis? Seperti kupu telur ulat kepompong kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu

berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel pipi
kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur

berhentilah!

Betul. Pengaruh sah saja pada proses kepenyairan. Kendati pada Nanang pengaruh Sutardji cukup kental, sajak Nanang itu bukanlah sajak sekadar. Sajak itu memantulkan bagaimana Nanang mempelajari kredo Sutardji tentang pembebasan kata. Kata menjadi kata. Bukan lagi kata yang merupakan kumpulan huruf yang menghasilkan makna. Boleh jadi, Nanang menangkap pelajaran itu dan hasilnya adalah sajak “Berhentilah!”.

Keterpengaruhan Nanang bukan semata-mata dari Sutardji. Pencarian Nanang terpantul pada sajaknya, antara lain, “Jalan Cinta” (hlm. 82), “Dimana Engkau” (hlm. 83), “Tawanana Cahaya” (hlm. 84), dan “Kaulah Segala Takjub” (hlm. 93). Pencarian ini barangkali yang menguatkan dugaan Ahmaddun akan kereligiusitasan Nanang, dalam bayang-bayang penyair sufi tahun 1980-an, yang pada tahun 2000-an ini masih membekas, antara lain, pada Acep Zamzam Noor dan Ahmaddun Yosie Herfanda. Percakapan penyair dengan Sang Khalik tak jarang mencapai tingkat “mabuk berat”.

Nanang terbuka dalam sajaknya. Dan keterbukaan yang transparan itu tampak dalam sajaknya berjudul “Mawar” (hlm. 92).

"akulah mawar, duri lukai jemari
darah netes pada kelopak

rasa sakit tahankan
bukankah kau tulus mencintai"

duh, tanyamu! duh, tawamu!

Catatan hidup Nanang diungkapkannya dengan mengambil lambang percintaan. Mawar, duri, kelopak, jemari, darah, sakit, tulus, cinta…. Semua berpadu menjadi “ratapan dalam” yang ingin saja meledak dilepaskannya, tapi dilepaskannya hanya dengan dua kalimat: duh, tanyamu! duh, tawamu!

Paling tidak, dalam kumpulan ini Nanang menampakkan sosoknya sebagai penyair imajis. Tentu saja tidak pada sajak “Mawar” saja. Hampir pada setiap sajak Nanang, imaji nyaris menjadi kekuatan utamanya. Jadi, tidaklah aneh jika Nanang mengatakan dalam “Intro” (hlm. 11):

aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka

terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada

mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka

berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata

tak bisa sembunyi
pura-pura

Sajak memang penuh ruang terbuka. Namun penyair akan sejujurnya mengungkapkan gagasan-gagasan dalam sajaknya, sehingga pada bening mata tak bisa sembunyi pura-pura. Paling tidak, itulah Nanang Suryadi, kelahiran Serang, 8 Juli 1973, staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, kini masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Indonesia.

Bekasi, Januari 2003


Monday, April 14, 2003

Membaca Nanang Suryadi, Menemukan Penari Telanjang

Membaca Nanang Suryadi, Menemukan Penari Telanjang

Oleh: Asep Sambodja

Dalam kumpulan sajak Nanang Suryadi yang kelima, Telah Dialamatkan Padamu" (Dewata Publishing, Jakarta, 2002), kita bisa menemukan bait pembuka dalam sajak "Intro", aku tak mengerti, katamu/ pada sajak banyak ruang terbuka, sebagai isyarat dimulainya pembacaan sajak-sajaknya yang terhimpun dalam buku ini. Bukan saja untuk mengungkap misteri dari sajak-sajak yang terdapat dalam kumpulan sajak ini, karena pembaca sastra tidak melulu sebagai pengejar amanat, melainkan juga mengikuti petualangan yang mengasyikkan bersama penyair dalam memainkan kata-kata hingga pada sajak terakhirnya yang berjudul "Epilog", yang dua bait terakhirnya berbunyi Demikianlah, sunyi tak terbagi/ Milikku sendiri.

Ada semacam rekayasa yang dihadirkan sang penyair (agar pembaca mau) untuk menemaninya bertualang di lautan kata-kata, belantara kata, samudera kata, bahkan gurun kata-kata yang sunyi sepi. Dan petualangan itu merupakan proses yang memperlihatkan pencarian (sekaligus penemuan) eksistensi diri yang tak lagi terbagi.

Dalam proses yang panjang melewati 100 sajak sepi, yang tidak semuanya bertarikh, ada beberapa capaian yang didapati Nanang. Salah satu di antaranya adalah sajak "Telah Dialamatkan Padamu", yang juga menjadi judul buku ini. Selengkapnya sajak itu saya kutip di bawah ini:

telah dialamatkan padamu sunyi lelaki, membaca huruf timbul tenggelam pada
pelupuk, tak dilupa juga peristiwa demi peristiwa, berguliran

kemana kita akan sampai, buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik kertas
terselip; aku merindukanmu

ah, omong kosong apalagi yang akan kutuliskan? seperti ada yang ingin
diledakkan di dadaku, ke dalam otakku

telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga
makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!


Pengalaman paling berat yang dirasakan penyair adalah ketika ia harus menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Sama sulitnya ketika kita dihadapkan pada pertanyaan kenapa kita mau menjadi penyair, sedangkan kehadiran kita di dunia ini sama sekali tidak jelas asal-usulnya. Kelahiran kita di dunia merupakan sebuah ketelanjuran yang tidak kita inginkan sendiri, yang tidak bisa kita rancang sendiri. Demikian pula menjadi seorang penyair. Menjadi seorang penyair lebih merupakan kutukan ketimbang simbol kehormatan—seperti pahlawan-pahlawan yang telah dikuburkan, misalnya.

Dalam sajak itu, Nanang Suryadi sudah merasakan adanya kutukan semacam itu, telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga makian. Dan sebagaimana nenek moyangnya, Nanang pun dengan terpaksa ataupun dengan suka cita menjalani kehidupan yang sunyi, dalam kesendirian maupun dalam suasana yang di mata orang awam (bukan penyair) dirasakan sebagai suatu kemeriahan atau sesuatu yang hiruk-pikuk, yang massal.

Dan betapa tersiksanya penyair ini ketika harus berhadapan dengan penari striptease ("Penari Telanjang"), karena yang dinikmatinya bukan lagi seorang perempuan yang berlenggak-lenggok, seperti Inul Daratista, Anissa Bahar, atau Liza Natalia yang bergoyang ngebor, dan kemudian perlahan demi perlahan menanggalkan pakaiannya satu demi satu hingga tanggal segala jenis barang produksi manusia. Tinggal tubuh ciptaan-Nya yang cemerlang, yang aduhai pedasnya.

Bukan seperti itu yang dirasakan Nanang, melainkan tak ubahnya seperti seorang sufi yang menafsirkan apa saja yang ada di hadapannya dengan sesuka hatinya, atau misalnya Sutardji Calzoum Bachri yang menenggak bir seperti menenggak air mineral, karena dia memperlakukan bir sebagaimana air putih.

Bagai seorang sufi(is), Nanang menangkap penari telanjang itu seperti melihat Tuhan, dan berharap perempuan (Tuhan) itu terus menari, hingga mengencang syahwat/ serindu-rindu akan wajah Kekasih… Dan kau kulepas segala tabir rahasia/ hingga inti hingga tiada lagi jarak.

Yang mencurigakan—atau barangkali begitulah pandangan seorang penyair sufi—, penari telanjang itu akhirnya 'sirna dan tiada'. Ahmadun Yosi Herfanda yang memberi “Kata Pengantar” buku ini, terutama saat berhadapan dengan sajak "Penari Telanjang", menilai Nanang telah melakukan lompatan sufistik dari hubungan yang imanen ke yang transenden ketika Nanang menggunakan huruf kapital K (Kekasih), M (-Mu), dan N (-Nya), tapi Nanang tidak menuntaskannya hingga baris terakhir.

Baris terakhir yang berbunyi 'sirna dan tiada' memang menimbulkan multitafsir. Bisa saja kata-kata itu diartikan sebagai Tuhan telah mati, atau jarak antara aku-Tuhan yang sirna dan tiada? Jika jarak yang dimaksud demikian, dapatlah Nanang Suryadi digolongkan sebagai penyair sufi (muda) dari generasi cyber di Indonesia, yang sama golongannya dengan Hamzah Fansuri, Abdul Hadi WM, dan Al Hallaj. Jika tidak demikian, apakah Nanang masuk dalam golongan "kedua", yakni golongan Nietzsche atau bahkan golongan Firaun dan Gatholoco? Tentu tidak sesederhana itu. Bisa saja Nanang menjadi dirinya sendiri.

Sajak-sajak yang terhimpun dalam buku ini didominasi oleh suasana sepi, suasana pertapaan, pencarian jejak, pencarian asal diri. Dalam salah satu sajaknya, "Mencatatkan Alamat", Nanang menuliskan demikian:

Telah kucatatkan alamat pada alir air
Mungkin sampai pada laut. Carilah

Atau pada matahari atau pada awan atau pada hujan

Di situ kugambar peta,
mungkin kenang sehalaman sorga

Rumah yang telah ditinggalkan lama


Pencarian semacam ini memang sudah lazim atau sudah galib dilakukan banyak penyair, meski Nanang melukiskannya dengan cara yang lain dari penyair-penyair seniornya. Berikut saya kutipkan sebuah sajak utuh Sapardi Djoko Damono yang sangat intens, yang menggambarkan asal-usul manusia hingga sampai ke bumi jelata.

JARAK

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong-sepi….

Sajak Sapardi ini menggambarkan dengan jelas betapa kehadiran manusia di bumi sudah demikian tidak berjarak dengan sejarah manusia pertama, Adam, yang 'mengabur' seperti 'dalam dongengan'. Dan meskipun kita menatap ke "atas" sana, tetap tak terjawab dengan segera, dan Nanang menegaskannya seperti Rumah yang telah ditinggalkan lama.

Berbeda dengan Sapardi Djoko Damono dan Nanang Suryadi yang sedang dibicarakan di atas, penyair kita Chairil Anwar tampaknya masih menyangsikan apa yang dinamakan surga (Rumah yang pernah ditinggalkan Adam). Dalam sajak berjudul "Sorga" yang ditujukan kepada pelukis Basuki Resobowo, Chairil Anwar menulis demikian:

Seperti ibu nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya
kerlingnya Yati?


Chairil tampaknya hendak meledek, atau mungkin bertanya (karena tidak pernah ke surga), kalau kita tercebur ke dalam sungai yang penuh susu, bisakah mengering seperti saat kita kecemplung di laut biru? Atau, apakah malah tidak lengket? Dan Chairil pun bertanya bagaimana pelabuhan-pelabuhan di surga? (Apakah kapal-kapal juga akan bertambat di lautan susu?—pertanyaan duniawi). Sementara menyangkut bidari, Chairil yang biasa bergaul dengan perempuan-perempuan di Stasiun Senen mempertanyakan apakah bidadarinya juga bersuara ngebas seperti Nina dan kerling matanya menggoda seperti Yati? Ada-ada saja.

Sebenarnya masih banyak sajak Nanang yang menarik untuk dibicarakan, misalnya dengan membandingkannya dengan sajak-sajak Nanang sebelumnya, atau membandingkannya dengan sajak-sajak penyair generasi cyber, seperti—untuk menyebut beberapa nama saja—Medy Loekito, Saut Situmorang, Heriansyah Latief, Rukmi Wisnu Wardhani, Hasan Aspahani, Indah Irianita Putri, Katrin Bandel, Tulus Widjanarko, Henny Purnama Sari, Cecil Mariani, Iwan Sutan Soekri Munaf, Cunong Nunuk Suraja, Yono Wardito, TS Pinang, Ibnu HS, Hadi Susanto, Fati Soewandi, SN Mayasari, Winarti, Gita Romadhona, Qizink La Aziva, Ben Abel, Kuswinarto (Yaqin Saja), dan Ali Syamsuddin. Tapi karena sebuah petualangan memerlukan akhir, tulisan ini pun memerlukan titik.

Dibandingkan dengan sajak-sajak Nanang sebelumnya, seperti dalam kumpulan sajak Silhuet Panorama & Negeri yang Menangis, misalnya, tampak bahwa Nanang Suryadi sudah memiliki gaya pengucapan yang matang. Berikut saya tuliskan sebuah sajak utuh dari buku Telah Dialamatkan padamu, yang mewakili gaya pengucapan sebagian besar sajak terbaru Nanang.

<i>Dan Akupun Menyerah

Hingga jam-jam kabarkan kebosanan pada detak penantian
Tapi siapa yang sanggup tunjukkan arah pulang

Kembali menjenguk wajah sendiri
Demikian memar membiru kesedihan biluri hari

O kesah siapa dicatat pada diri
Hingga muntah aku dimabuk puisi meresah lelah

Ayun ambinglah, larutkan aku
Dalam arus waktumu

Aku menyerah!

Citayam, Februari 2003



Saturday, April 05, 2003

Nanang Suryadi: Arthur Rimbaud Nusantara!

Nanang Suryadi: Arthur Rimbaud Nusantara!

Oleh: A. Kohar Ibrahim

Di tengah malam sunyi sepi timbul kegairahan, sekalipun di luar langit hitam kelabu keputihan cahaya bumi berselimut salju. Dingin sekali. Selagi dimamah rindu pada Srikandi penggenggam pena di Nusantara, membuka jendela kaca ordina, kudapati sepucuk surat elektronika berisi undangan yang segera menghangati pikiran dan hati.

Maka aku sambut senang undangan itu, apalagi yang datang dari seorang penyair bernama Nanang Suryadi. Untuk menikmati sajiannya berupa kumpulan puisi (kupuisi) berjudul Telah Dialamatkan padamu terbitan Dewata Publishing akhir tahun lalu.

Kupuisi yang sampulnya indah berupa komposisi paduan yang kontras clear-obscur (gelap-terang), lembut tegar, berat ringan itu memang membikin orang seperti saya segera merasa tergelitik. Senang dalam menikmatinya. Dari bagian pertama sampai yang akhir. Suatu paduan yang hamornis lagi logis isinya aneka ragam warna dengan segala nuansa perasaan dan pemikiran.

Betapa tidak. Tiap kata yang dikomposisi bagi judul buku itu sendiri adalah berupa pertanda dari tiap rangkuman kreasi puisinya. Sepintas kilas, terkesan seperti seenaknya saja Nanang mengkomposisi kata demi kata sedemikian rupa, hingga saya pun merasa keenakan menyimaknya. Langsung sekaligus simpatik menggugah: Telah dialamatkan padamu. Konkretnya, dan selengkapnya rangkuman-rangkuman itu adalah sebagai berikut:

(1) "Telah" : rangkuman terdiri dari 21 sajak. Salah satunya berjudul “Harap”:

Nasib siapa dipikul naik turun lereng terjal gunung berbatu / Tak ada serapah, hanya ketabahan pada terik

Angin yang panas dan debu hantarkan berita: / Di negeri kemarau, hujan adalah mimpi belaka

Tapi desir yang sampai pada telinga, mungkin bisikmu: / Sebuah harap, bukan hanya mimpi, mungkin laksana suatu ketika

Seperti kubaca mendung di matamu


(2) "Dialamatkan" : rangkuman terdiri dari 19 sajak. Salah satunya berjudul “Kau Tunggu”:

sebuah berita kau tunggu, dari rimba / mungkin pekik hewan, dengus angin, terkirim / ke dalam kamarmu yang hangat,

kau tetap menunggu, secarik kertas kumal / bertuliskan: jaga dirimu, sayang

begitulah, pada jarak, kau mengetahui / arti cinta dan kasih sayang

dengan harap dan kecemasan, kau tunggu / berita itu / selalu



(3) "Padamu" : rangkuman terdiri dari 24 sajak. Salah satunya berjudul “Perempuan Pagi Berwajah Puisi”:

aku merindukanmu, katamu, pada pagi di mana puisi meronta meluncur / mendesak menghancur melumat memabukanku. dengan terbata kubaca sepi / di wajahmu yang puisi. o, ribuan cahaya, berangkat dari pelupuk mata.

aku merindukanmu, katamu, seperti sepi yang menikam menghujam / menyayat menyadap semuruh tubuh. o, ribuan duka, berangkat dari pelupuk mata.

aku merindukanmu, katamu, pada hari yang senyap, tak ada bunyi / memecah dinihari, pagi di mana gelisahku sampai pada wajahmu. puisi



(4) "Sunyi" : rangkuman terdiri dari 16 sajak. Salah satunya berjudul “Tik Tak Tik Tak : 01.05”:

kau adalah keheningan pada malam aku berangkat ke dalam relung-relung sunyiku seperti kau biarkan aku dalam tanyaku sendiri. diam

adalah embun yang meluncur butir demi butir ke dalam sukma yang pedih ke dalam mulut haus. kau

sebatang pohon yang sedih dan berkibaran dalam udara kabarkan cerita itu dari rongga dadamu. ketulusan

air mata begitu cucur menumpah basah di sekujur riwayat manusia serunya. tubuh

kau gigil menatap arah tak tentu angin berputar cuaca bergantian arah tuju. aku

rindukan saja kenangan itu tapi jangan datang serupa jam berdebu buku menguning album. rebutlah

segala mimpi



(5) "Lelaki" : rangkuman terdiri dari 18 sajak. Salah satunya berjudul “Aku Adalah”:

aku adalah airmata / menetes begitu deras

aku adalah tarian / gelombang lautan

pada sembab mata / pada getar bibir

aku adalah gemericik air / hulu sungai

pada asin lidah / pada lapang hati

aku adalah tembang / menzikirkan nama kekasih

duh, begitu rindu



Dengan tambahan sebuah sajak, kupuisi itu seluruhnya merangkum 99 judul sajak. Memang enak disimak enak dilacak. Lembutnya seperti sepiring nasi putih, gurihnya seperti ikan lele, sedapnya seperti sambel ulek, sayur lodeh, segarnya seperti karodek, garingnya seperti kerupuk udang; nikmatnya seperti kopi es; harumnya seperti mawar seperti melati.

Kesan lainnya yang menyenangkan terletak pada gaya penuangan isinya yang enak-enak-an saja membikin saya keenakan juga. Seperti udara bebas beredar merdeka. Seperti air mengalir dari kali ke muara hingga laut bebas lepas. Mendasar. Mendalam. Meluas. Meninggi. Selagi mengingat keluhur-agungan Ilahi ataupun selagi merindukan sang kekasihi.

Semua puisi yang tersajikan ringkas-ringkas nyaris ada yang kepanjangan. Namun terasa sekali, betapa hebat dan kuatnya bahasa Indonesia—terutama penggunaan perbendaharaan kata-kata yang begitu kaya dan plastis—yang dikuasai seorang penyair macam Nanang yang blasteran Sunda-Jawa itu!

Sepertinya, bagi Nanang, hal-ihwal apa saja yang menarik hatinya bisa digubah dengan mudah menjadi sajak. Apa rahasianya?

"Menulis sajak bagiku menjadi semacam catatan bagi sejumlah pengalaman puitik," demikian antara lain pengakuan Nanang seperti diutarakan di layar kaca situsnya.

Selain itu? Apa lagi rahasianya yang penting?

"Sejak kecil," Nanang mengaku dalam suatu penuturan proses kreativitasnya sebagai sastrawan, "sejak aku dapat membaca buku dengan baik, mungkin kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar, aku membaca banyak buku-buku cerita kanak, majalah-majalah, koran yang ada di rumahku. Aku kira kebiasaan di waktu kecil itu berpengaruh banyak kepadaku untuk membuat karangan."

Suka atau kebiasaan membaca itu rupanya berkelanjutan sampai usia dewasa. Selain bacaan, rupanya mendengarkan dongeng atau kisah-kisah yang diutarakan abahnya juga mempengaruhinya secara positif. Dan dalam kenyataannya, seisi rumah, memang menyukai bacaan. Maklumlah. Kerna ortunya memang bekerja sebagai guru. Sang abah mengajar di SD dan SMP, sedangkan sang ibu mengajar sebagai guru agama di SD dan madrasah ibtidaiyah.

Alhasil, pengakuan seorang penyair macam Nanang yang senang membaca hingga mempengaruhinya menjadi pengarang itu memang pertanda penting untuk diperhatikan. Penting diteladani oleh penulis pemula. Kerna bisa dipastikan pula, semua pengarang besar juga sangat besar minatnya untuk membaca. Penting pula disadari oleh masyarakat yang luas akan manfaat yang positif bagi putra-putrinya yang sudah menyukai bacaan sejak masa kecil. Demi pertumbuhan kerohanian dan pencerahan serta perluasan wawasannya.

Pada segi lain, saya memperoleh kesan, bahwa Nanang Suryadi memang salah seorang penyair Indonesia yang produktif. Menulis sajak dimulai sejak masa duduk di bangku sekolah menengah atas. Kupuisi Telah Dialamatkan padamu yang diterbitkan oleh penerbit profesional Dewata Publishing itu merupakan pertanda penting dari kreativitasnya selaku penyair. Sebelum itu, kupuisi-kupuisinya yang masing-masing berjudul Sketsa, Sajak di Usia Dua Satu, Orang Sendiri Membaca Diri, dan Silhuet Panorama dan Negeri yang Menangis, semuanya diterbitkan olehnya sendiri dengan oplahnya paling banyak 200-an eksemplar.

Setelah memenuhi undangan Nanang seraya menikmati sajian tambahan lainnya pula, saya akui bahwa bukan jenuh kekenyangan, melainkan ketagihan yang saya rasakan. Saya coba mengenang Parahiyangan seraya berbisik dalam hati: "Telah lahir Arthur Rimbaud Nusantara: Nanang Suryadi. Kelahiran Serang 8 Juli 1973. Selamat Nanang!" ***

'Erotisme Religius' Sajak Nanang

'Erotisme Religius' Sajak Nanang

Oleh: Ahmadun Yosie Herfanda

‘Erotisme religius’. Barangkali ini istilah yang aneh. Mungkinkah sesuatu yang erotis – yang sangat profan – bisa bercitra religius? Sulit untuk menjawab ya. Tapi, ketika membaca beberapa sajak Nanang Suryadi yang terkumpul dalam buku ini, sebutan ‘erotisme religius’ itu sulit untuk dihindari. Simaklah, misalnya, sajak Penari Telanjang berikut ini,

Menarilah engkau dengan telanjang
Di matamu matahari di matamu rembulan
Dan hujan berderaian dan bintang berpendaran
Berderaian pelangi dikibas ke kiri ke kanan

Menarilah engkau
Berputar menggeliat gelinjang
Hingga mengencang syahwat
Serindu-rindu akan wajah Kekasih
Ah rintih: Kau rinduku! Mabuk kepayangku pada-Mu!
Wajah-Mu! Tatap-Mu selalu!
Dan kau kelupas segala tabir rahasia
Hingga inti hingga tiada lagi jarak
Sirna dan tiada


Sajak di atas sangat menarik dan bisa mengundang rasa penasaran pembaca. Tanpa menulis ‘Kekasih’ dengan ‘K’ besar, dan tanpa menulis ‘Mu’ dengan ‘M’ besar, sajak di atas cenderung akan mengesankan keterpesonaan Nanang pada seorang penari telanjang yang sedang menari erotis sambil melepaskan busananya sehelai demi sehelai (Dan kau kelupas segala tabir rahasia). Suatu inti dan imaji yang sangat profan, dan getaran keindahan yang lebih dekat dengan getaran seksual.

Namun, dengan ‘K’ besar pada ‘Kekasih’ dan ‘M’ besar pada ‘Mu’ itu terjadi sublimasi (pengagungan) yang cukup luar biasa pada sajak tersebut. Citra yang semula profan menjadi demikian religius. Kesan kekaguman pada penari yang imanen terangkat menjadi keterpesonaan pada keagungan Tuhan yang transenden. Kerinduan yang semula sangat fisikal dan mengencang syahwat pun tersublimasi menjadi kerinduan yang transenden pada wajah Tuhan (wajah Kekasih), dan ini adalah kerinduan yang sangat sufistik, seperti kerinduan seorang Rumi atau Hamzah Fansuri pada-Nya.

Memang, dengan sublimasi, di tangan penyair sebutir pasir pun dapat menjelma sebutir intan yang mulia. Dan, sublimasi yang paling umum adalah menuliskan kata ‘Mu’ dengan ‘M’ besar pada baris-baris sajak yang mungkin saja semula yang dimaksud ‘mu’ dalam sajak itu adalah seseorang atau kekasih dalam arti fisikal – yang berada di dunia profan. Dengan cara ini, seorang penyair yang rindu bercinta dengan kekasihnya (kerinduan biologis) dengan mudah dapat menulis sajak sufistik hanya dengan menuliskan ‘Kekasih’ atau ‘Mu’ dengan huruf awal kapital.

Sublimasi semacam itu sempat diperdebatkan pada akhir dasawarsa 1980-an, ketika kecenderungan sajak sufistik sedang menguat di negeri ini dan sempat memunculkan istilah ‘religiusitas yang instan’. Namun, ketika yang disublimasikan adalah sesosok penari telanjang yang sedang menggelinjang erotis, maka citra religius yang muncul menjadi sangat menggelitik dan mengundang rasa penasaran. Dan, itulah misteri yang menjadi kekuatan terpenting sebagian sajak Nanang. Seperti pernah dikatakan Sapardi Djoko Damono, puisi yang bagus (baca: indah), ibarat ‘sebiji kacang di balik kaca kristal’. Dari luar terlihat bahwa itu sebiji kacang, tapi tampak lebih indah, mungkin fantastik dan mempesona, seperti ada misteri, dari satu sisi seperti kembar, dari sudut pandang lain bisa tampak puluhan kacang, kadang-kadang samar atau gemebyar ketika ada pantulan cahaya dari luar. Sebiji kacang yang mempesona. Kacang itu adalah isi puisi, dan kaca kristal itu estetika puisi. Dan, ‘penari telanjang’ adalah biji kacang yang berhasil dibungkus Nanang dalam kaca kristal itu.

Tarian atau penari, agaknya, menjadi idiom penting sajak-sajak religius Nanang, dan ia berulang-ulang mengungkapkan keterpesonaan dan kemabukannya pada tarian Tuhan itu. Pada sajak Aku Gelandangan Mencari-Mu penyair yang menjadi motor Cybersastra.net ini juga mengulang idiom tersebut pada bait ketiga. Dan, citra ‘erotisme religius’ terpancar pada bait ini: Aku gelandangan terpesona tarian-Mu/ Membayang Engkau dengan birahi kepayang mabukku.

Pada sajak Mabuk Tarian yang terkesan agak lebih telanjang, Nanang bahkan tidak hanya terpesona, tapi mabuk tarian itu. Sajak ini seakan menjadi penegas bahwa yang dimaksud ‘penari’ dalam sajak-sajaknya adalah Tuhan Sang Mahapencipta.

Mabuk aku
Tarian-Mu memutar planet beterbangan
Mabuk aku
Tarian-Mu melesatkan bintang berpijaran
Mabuk aku
Tarian-Mu memusarkan galaksi beraturan
….


Kekuatan lain sajak-sajak Nanang dalam buku ini adalah getaran religiusitasnya yang sering terkesan sufistik. Kekuatan ini tidak hanya dapat dirasakan pada sajak-sajak yang ungkapan ‘kehadiran Tuhan’-nya (Mu, Engkau, Kekasih) ditulis dengan huruf awal kapital; tapi juga pada sajak-sajak yang baris-barisnya tanpa satupun huruf kapital. Pada sajak-sajak yang isyarat kehadiran Tuhannya (mu, engkau, kekasih), tidak ditulis dengan huruf awal kapital, misteri itu justru makin mempesona. Terutama, pada sajak-sajak yang tetap memanfaatkan keindahan ‘kaca kristal’ (style, poetika) untuk membungkus isinya. Pesona itu mencair ketika Nanang berlugas-lugas seperti pada sajak Mabuk Tarian di atas.

Lebih dari itu, masih banyak sisi menarik pada sajak-sajak Nanang yang layak untuk dibicarakan. Pengantar pendek ini tentu tidak dapat mengupas semuanya. Apalagi, puisi adalah sesuatu yang multi tafsir (multi-interpretable). Selain membuka kemungkinan banyak tafsir, ia – seperti pernah dikatakan A. Teeuw – juga membuka kemungkinan salah tafsir. Ada keyakinan – seperti berkali-kali dikemukakan Suminto A. Sayuti – bahwa kemungkinan tafsir puisi tergantung pada kekayaan intelektual pembaca. Semakin kaya pengetahuan pembaca akan makin dapat memberikan tafsir yang kaya pula pada puisi. Dan, itu pula yang dapat diberikan pada sajak-sajak Nanang yang umumnya memang kaya isyarat religiusitas.

Selain itu, puisi yang bagus diyakini akan mampu berdialog sendiri dengan pembacanya tanpa bantuan pengantar apapun dari kritisi sastra. Maka, Andalah, pembaca, yang paling berhak untuk menikmati, berdialog langsung, sekaligus memberi tafsir yang lebih kaya pada sajak-sajak Nanang dalam kumpulan ini.***


Monday, March 24, 2003

Sajak Liris dan Lingkar Bayang Struktural Sejarah

Sajak Liris dan Lingkar Bayang Struktural Sejarah

Oleh: Sihar Ramses Simatupang


Membaca karya seorang penyair tidak hanya perjuangan menembus rimba kata yang penuh dengan sulur simbol dan metafora, tapi juga menelusuri riwayat perjalanan seorang penyair dengan referensinya. Referensi wacana lisan dan tulisan yang tentu saja juga dipengaruhi oleh pengalaman empiris pribadi dari si penyair. Nanang Suryadi, juga salah satu penyair yang muncul saat ini, tak luput dari persoalan referensi semacam itu. Strukturalisme sejarah kepenyairan suatu bangsa, negara, dan dunia tak akan berhenti, selalu ada garis-garis yang menghubungkan.

Gerbang perpuisian yang telah dibuka secara konsep oleh seorang Amir Hamzah bersama Pujangga Baru-nya dari pusaran kesusastraan Melayu, Chairil Anwar yang mendobrak tradisi dan mengadopsi puisi barat, Rendra yang melaju pada realitas sosial, Tardji yang mengolah kesadaran lama tentang mantra hingga gaya pecahan kata dengan konsep Posmo dari seorang Afrizal Malna. Ah, uniknya pernik perjuangan kepenyairan di Indonesia.

Karena itu, wajar saja, di tengah puluhan para penyair simbolik kebangsaan–belum lagi dihitung dengan keberadaan penyair dunia Octavio Paz dan Pablo Neruda–para penyair saat ini tak hanya berpuisi, tapi juga ditanyakan kebaruan konsep-konsepnya. ”Puisi-puisimu pasti bagus Nang. Tinggal mencari yang baru dalam sejarah sebuah karya,” ujar Maman S. Mahayana, seorang dosen dan pengamat sastra.

Tapi benarkah itu? Apakah penyair saat ini tak punya diksi dan konsep yang baru? Mengutip kalimat Maman, puisi Nanang jelas berkualitas. Hanya, bayang-bayang masa lalu seorang Sapardi Joko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, barangkali juga Goenawan Mohamad atau Subagyo Sastrowardoyo masih menghantui. Hanya sekarang yang jadi pertanyaan, sungguhkah publik telah meneliti karya para penyair saat ini. Nanang Suryadi hanyalah salah satu di antara mereka (tak perlu disebut karena begitu banyak saat ini).

Namun sudah seharusnya para pengamat dan pengkritik sastra memperhatian mereka secara cermat. Ataukah semua bayang-bayang itu telah sedemikian kukuhnya dalam jagat puisi Indonesia sehingga tak ada lagi celah untuk sebuah pembelaan pada kekukuhan tonggak puisi baru? Termasuk buat seorang Nanang Suryadi yang jelas berbeda juga diksinya, penyataan ini hanya bisa dilontarkan oleh seorang pengamat puisi yang lama memperhatikan karya seorang penyair. Nanang juga punya keunikan. Tinggal sekarang, pembelaannya adalah, hutan rimba kata apakah yang telah ditanamkan dan ditumbuh suburkan oleh seorang Nanang Suryadi dalam bukunya Telah Dialamatkan Padamu. Seperti pendapat penyair dan redaksi Ahmadun Yosi Herfanda tentang religiositas karya Nanang, ada celah lainnya yang kerap dimuntahkan penyair ini pada lirik-lirik baitnya. Kata-kata yang kesepian, namun senantiasa mengalir jernih untuk bersuara tentang cinta. Tak ada benturan yang membabi-buta, lihat saja pada sajaknya ini:

Sebagai cakrawala harapku, lengkung alis matamu/Binar mata, berkas bintang-bintang mencahaya, demikian rindu. (Yang Menyimpan Rindu, 13)

Juga pada larik puisi ini:

Bunga ditanganmu berapa warna, dirangkai sebagai kenang, kepada siapa keharuman disampaikan, ah engkaulah bunga, merangkai hidupmu sendiri, merah putih ungu hitam, engkaulah kenang itu (pada sajak Seorang Yang Merangkai Bunga, 39).

Adakah kesepian yang begitu tabah, menahan-nahan rindu sendiri untuk “hanya” dialirkan dalam bahasa yang sabar dan indah. Diksi yang tak merusak kebeningan air telaga kata. Tak perlu ada kalimat “mampuslah aku dalam kesepian”, Nanang berhasil mengemas kesunyian dan rasa ngelangutnya dalam keindahan. Inilah perbedaannya. Nanang bukan seorang penyair yang di antara penyair sebelum, yang digandoli berbagai teori macam-macam tentang filsafat dan kesusastraan. Hitungan dalam rasa dan pikirannya hanyalah kalimat yang indah tentang puisi, termasuk cara pengucapan, patahan kalimat hingga keindahan kata. Diperlukan suatu alasan, saat dia mencoba melihat dunia lain dari kacamata rasa dan pikirannya. Dengan cermat, nyatanya dia tetap mempertahankan kepiawaiannya berhitung bunyi dan ephoni. Tetap dengan tradisi seorang Nanang Suryadi:

Tapi bukan kelinci ajaib yang melompat ke lobang hitam atau topi/sulapan, dimana engkau dengan matnra: izukalizu tahi tahu tahi tahu/lonte bau di ubun ubun kluk!

Tapi nanti dulu, Nanang memang penyair yang suka iseng sendiri, mengutak-atik kekhasan diksi puisi penyair lain, untuk sengaja menyapa penyair lain. Bukan cuma Tardji–kalau puisi tadi dibilang bergaya Tardji–siapa saja penyair karibnya yang tak diisenginya dengan “meminjam” (bukan merebut) diksi dan metafora para penyair itu. Tentu saja dia telah membubuhkan nama penyair itu. Bisa jadi, justru itulah gayanya. Dalam karyanya, dia mau berlelah lelah memperhatikan setiap simbol, diksi hingga rima atau loncatan bunyi.

Kembali pada suasana puitiknya, karya-karyanya rata-rata berisi cinta kesepian dari sesuatu yang masih jauh. Bisa rindu pada Tuhan, kepada ibu, atau kepada pasangan kodrati: seorang perempuan yang dicintai. Semua dihadapi dengan bijaksana, tak ada kalimat yang pecah, kesemuanya tetap terjaga.

Demikianlah, betapa dia mencoba berarif-arif ria dalam menghadapi tentang harga sebuah kesepian. Pada kata, semua rindunya di alamatkan. Lihat saja pada sepi yang menggigit di puisinya yang berjudul Jam Yang Menyerpih (hal.36) ini:

Sebagai harap yang pecah berderai, jarum jam menyerpih, luruh dari jemarimu, mungkin kan diingat lagi, sebuah ilusi, impian yang berloncatan, dari matamu.

Membaca Nanang yang Selalu Gelisah

Membaca Nanang yang Selalu Gelisah
Oleh: Alex R. Nainggolan


Nanang Suryadi barangkali salah seorang penyair yang produktif di Indonesia. Bahkan, dalam salah satu proses kreatifnya yang dituturkan di situs www.cybersastra.net dipaparkan bagaimana ia harus menulis sajak, dengan kedaan apa pun. Dalam sehari, di saat sedang menggumpal penuh imaji, ia bisa menulis 4—6 sajak. Tentu, tafsiran ini berbeda bagi setiap orang. Ada yang bilang, sajak-sajak yang mengambil jeda singkat (dalam hal menyusun diksi demi diksi hanya bertautan waktu yang sedikit), maka seorang penyair akan menghasilkan sajak yang dangkal. Dalam bahasa Sutardji, tidak terlalu dalam, menandakan eksplorasi yang tidak sungguh-sungguh.

Namun, ketika membaca beberapa sajak yang dikumpulkan dalam buku ini, saya jadi merenung—betapa sebuah jeda jarak yang singkat dapat menghasilkan sajak-sajak yang bermutu juga. Sudut pandang ataupun pengangkatan tema yang ditawarkan Nanang memang lebih banyak pada kesenduan, kegetiran, frustasi, dan rasa kecewa, tapi di balik itu semua terdapat sejumlah harapan yang membuat semangat baru dalam menjalani kehidupan. Kata-kata yang transaparan, begitu jelas lekuknya terlihat. Dalam kata pengantarnya, Ahmadun menyebut sajak-sajak Nanang lebih bernuansa “erotisme religius” ketika Nanang memadukan kenikmatan dunia dan keagungan Tuhan, seperti dalam sajak “Aku Gelandangan Mencari-Mu”. Berikut saya kutip seluruhnya:

Aku gelandangan mencari-Mu dengan tawa nyeri
Dalam busa-busa yang menggelembungkan tanyaku

Aku gelandangan memaki-Mu dengan rindu hati
Tak sanggup katakan cinta kepada mata-Mu yang tusukku

Aku gelandangan terpesona tarian-Mu
Membayang Engkau dengan birahi kepayang mabukku

Aku gelandangan pingsan di jalan sepi
Memimpi-Mu hingga mati berulang kali

Aku gelandangan mencari-Mu
Hingga kini


Nanang rela mendefinisikan dirinya sendiri sebagai seorang gelandangan. Sebagaimana kita tahu, gelandangan adalah orang yang selalu dianggap remeh, dengan nuansa kemiskinan yang lekat pada tubuhnya. Gelandangan yang memimpikan seorang Tuhan. Di sinilah aroma sufi diluapkan, sebagaimana halnya yang pernah dilakukan oleh Jalaludin Rumi lewat tarian sufinya. Saya juga mencatat beberapa kata yang begitu sering disebutkan Nanang semacam o, tarian, aku, dan kau. Tampak bahwa Nanang mencoba bercakap dengan orang-orang tertentu saja, mempersembahkan suasanan murung yang mulai tumbuh di dalam dirinya, agar dapat dimengerti.

Nuansa kesepian yang begitu nyata, digambarkan Nanang lewat sajaknya yang lain, “Seorang Yang Melipat Sepi”. Bagaimana kecemasan mengendap dalam diri seseorang dengan sudut-sudut sepi yang terus berayun? Dalam lirik sajaknya: malam telahkah demikian larut, dalam anganmu/ dimana cermin diletak, wajah masai tak tampak/ tapi siapa yang menyusun mimpinya, malam-malam begini/ pada dering telepon, suara yang lelah di ujung/ kau melipat sepi/tiada henti.
***


Kata orang, seseorang akan menjadi sangat kreatif apabila berjarak dengan kehidupannya. Meski, bukan berarti orang tersebut harus menyingkir dalam kehidupan, melainkan mengambil sebuah jarak (jeda) antara suatu peristiwa (realitas) untuk ditelurkan dalam sajak-sajak atau tulisan lainnya. Barangkali itulah yang sedang ditempuh oleh Nanang. Secara guyon, Nanang pernah mengatakan: “Kalah Anwar (Chairil Anwar), dalam sepuluh tahun puisiku seribu”. Meskipun terkadang ada beberapa puisi yang cenderung dipaksakan—malah membentuk dunia aneh (infamilier) dengan kebanyakan. Tapi, setidaknya Nanang telah membuktikan, di antara kesibukannya sebagai pemimpin redaksi redaktur puisi di situs sastra nusantara, dirinya masih sempat mengetikkan sajak, termangu di depan layar komputer, dan menarikan jarinya di atas keyboard. Mungkin, ia hanya menulis peristiwa-peristiwa kecil yang sudah sekian lama diremehkan orang, bahkan yang tidak berharga sama sekali. Suatu perlawanan yang diam-diam ditawarkan, di antara kegelisahan dirinya yang terus mencari.

Simak saja dalam sajaknya “Narasi Orang Bosan” berikut:

Aku menjadi orang bosan dan mulai membenci diri sendiri udara pengap tiktak jemari pada keyboard yang lesu wajahmu yang pudar jam yang tak juga berdetik baterenya aus dimakan waktu-waktu?seperti lompat dari bintang mati

Tapi bukan kelinci ajaib yang melompat ke lobang hitam atau topi sulapan, dimana engkau dengan mantra: izukalizu tahi tahulonte bau di ubun ubun kluk!

Segera kusandarkan kepalaku hingga wajahmu melompat lagi pada mesin waktu tak kutawarkan rokok bahkan sebatang untukmu juga kawan di sampingku tak menawarkan gin tonic yang meracuni darahnya

Ting tong ting tong kata kawanku menirukan jam yang telah lama mati di meja belajarku mungkin juga menyindir pada photo yang tersembunyi di bawah buku

Ini bukan iklan tentang kawanku atau diriku sendiri yang telah menjadi bebal pembosan dan mungkin sedikit gila menyorongkan wajahnya pada sebuah kamera di sebuah rumah sakit jiwa: kamar 212

Ting tong ting tong kluk izukalizu matamu tahu!


Dalam sajak itu, setiap kalimat disuguhkan tanpa titik. Semua mengalir begitu saja, hanya luapan yang tak berhenti ihwal kebosanan yang terus datang, menyembunyikan diri, hingga ke sebuah rumah sakit jiwa. Ditambah lagi dengan sebuah mantra izukalizu yang mendedahkan nuansa sulap tersendiri, sebagaimana yang digambarkan sebelumnya: tapi bukan kelinci ajaib yang melompat ke lobang hitam atau topi sulapan.

Meski ada beberapa sajak yang mencair, menembus setiap sekat kehidupan, sebuah romantisme hidup yang lama terkubur, ditambah citraan religius yang mengendap. Nanang secara perlahan menggoda pembaca untuk menerjemahkan sendiri setiap larik kata yang disusun dalam sajaknya. Hal ini tentunya bergantung pula pada pengalaman dan kekayaan intelektual yang dimiliki pembaca. Sebab, membaca dan memahami sajak adalah kerja tafsir, yang tak setiap orang sama mendefinisikan suatu hal. Keragaman tafsir itulah yang mencerminkan kekayaan sebuah sajak. Bukankah kesenian bergantung pada citra rasa orang per orang (subjektif)?

Itulah Nanang, penyair yang terus gelisah pada apa saja. Terbukti dengan 100 buah sajak dalam kumpulan ini. Dalam tema-tema sedih yang diangkatnya ada sebuah pergulatan, sehingga tak perlu terus-menerus meratapi nasib dan hidup yang berjalan ini.

---------------------
* Alex R. Nainggolan adalah staf ahli PM PILAR Ekonomi Unila, bergiat di Komunitas Sastra Pelangi, Bandar Lampung


Saturday, March 01, 2003

Sajak-Sajak Nanang adalah Sajak Bujangan

Sajak-Sajak Nanang adalah Sajak Bujangan

Oleh: Ben Abel

sajak-sajak nanang adalah sajak bujangan ; sebagai pembaca [[[[[[[[bener nih ?]]]]]]] aku jarang sekali menemukan kata mereka, tetapi aku kau dan kita ; Jadi bila kesunyian lagi menggugu, puncak lagu yang terbayang "tinggal jerit sendiri" dan merah api melibat-libat semena ; Itu lantaran nanang suka banget memakai kata CAHAYA, API, TERANG, atau serbaneka kata yang membuat pembacanya berasosiasi tentang kata2 itu ; semisal [pintas lalu] : SKETSA DI HALAMAN BUKU, dalam sajak ini tak ada kata api , terang maupun cahaya TAPI : "tubuh telanjang, jongkok, kepala bertanduk [[[[katanya]]]], sketsa di tangan perempuan demikiankah cinta ayu, puisi yang tak kunjung dipahami, selain dongeng tentang hari-hari entah, yang tak perlu ditanyakan" ---- ya, kepala bertanduk tak mungkin bikin pembaca mengasosiasikannya pada lele maupun banteng segi tiga, apalagi PDI-suryadi [kebetulan bukan bapaknya nanang soeryadi]; Toh, jelas maksudnya bayangan setan penjaga kawah candradimuka tempat api-bakar2 jiwa orang berdosa yang tidak mencintai neraka, dan maunya enak hidup disurga doang ---- tetangganya. Setan yang selalu digambarkan sebagai lelaki berkepala hitam dan bertanduk [[[[[[[ mana ada setan betina, kalo pun ada bukan jadi penjaga neraka, paling banter jadi kuntilanak - jadi alam baqa tuh ada masalah gender juga rupannya ]]]]]]]] .... sekali lagi nanang menegaskan kebujangan ' lha apa kebujangan sama seperti kesendirian, atau justru ramai dalam imagined communication maupun imagined communalism sekalian imagined communities-nya ..... Sekalian contoh lagi ; RITUS CINTA "kau siapkan artefak-artefak, aikon, tanda, mungkin bunga, merah warnanya, coklat berpita, tanda cinta seperti ritus di hari kudus. seperti tak ada esok dan hari kemarin padahal setiap detik, kurasa cinta menyala dalam dada" --- Kata merah, kudus, menyala .... semua bikin pembaca ingat cahaya .... dan serasa sendiri lagi, bujang membujang ..... baca sajak, selalu asyik kalo bisa dibaca dengan bersuara .... tapi sajak nanang terkadang ada yang
terasa hanya dimaksud untuk berbisik [[[[aku tau ini salah]]]]], aku masih mencari geneologi [wuih! istilahe] kepenyairan si nanang, umpamanya [seandai saja] ciri banten, sunda, jawa, indonesia, bukan sekedar warna sanggar2 dan kelompok diskusi maupun nanang yang berkelana dan melintang-lintang dari jatim sampai ujung kulon; tapi belang bulan, kecongkakan matahari, dan kerling bintang maupun kerundungan tawon dsbnya ..... maka itu sekian sekedar kata-hatiku ..... salut nang!

Malin Deman
nama samaranku di zaman Madjapahit, sesuai tuturan si hAjo Buyung Blando


Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia”

Membaca “Demikianlah Ia Berbahagia”

Oleh: Ben Abel

Kali ini, “Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam ; Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka” -- dan dengan ini, Nanang memaksa yang dipaksa diri [sendiri] melangit. Seperti pernah kusampaikan bahwa sajak-sajak Nanang adalah sajak bujang. Ia tidak pernah menggunakan kata orang ketiga, seperti : Mereka, dan dia, maupun kata ganti jamak : Kami, atau kita. Tetapi selalu bersekitar antara kau dan aku, yang seolah hanya berbicara pada diri sendiri. Seperti kepeduliannya hanya didalam, dan tidak mempedulikan keribuatan yang di luar.

Namun dalam sajak “Demikianlah Ia Berbahagia” ini seakan telah terjadi pengecualian yang terasa bukan saja sekedar lain. Tetapi menjadi bentuk lain dari intensitas kepenyairannya.

"inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan kata yang mabuk" - mungkin kata "dan" disini maksudnya adalah "dengan" -jadi- ia menjadi " "inilah upacara persetubuhan manusia sepi dengan kata yang mabuk" ---- di bulan Mei 2002 ini nanti sedang lalu, rupanya ada tingkat intensitas yang seperti : "Gemuruh meriuh dalam dada, berdebam suara membaur, gebalau kacau" pada kontemplasi itikad diri kepenyairan Nanang; Dalam "Demikianlah Ia Berbahagia" ini kata-kata bernada g e m p a r mengirama rasa g u s a r [nya]... lihatlah! Baris kata-kata berikut :

gemuruh,
debam,
tikam,
luka,
pukimak /1/
gairah,
sayat,
tusuk,
pisau,
goyang pinggul /2/

oh O puncak derita [selangit] adalah kebahagiaan; Kita tak tau apakah Nanang sedang muntah atau meludah. Karena kata-kata : Hampa, kosong dan gundah di bait awal, serasa mengabarkan rasa lapar, selangit pula. Tetapi jeret k a t a "tikam" berkali-kali, l a l u getir memuncak di pukimak dalam peluk-peluk yang menyayat, pada mata yang berkunang kenangan, dan gairah pisau [[[[[ bukan b e l a t i seperti pakem yuliet & romeo ]]]]]] yang menari-nari, menggeliat-geliat dengan raupan kata-kata [erotik] goyang pinggul [[[ mungkin yang terbayang adalah penyanyi dangdut ]]] semua menggambarkan pada kita adanya kecamukan berpendar disana. Mungkin rasa mual. Muak. Atau begitulah kesadaran yang dimuntahkan pada kegetiran. Dimana pahit beroleh manis berasa masam, diramu jadi satu kepastian nilai sebagai yang sekian diimpikan. Adalah “O puncak derita bahagia!”


Oi ! Sepi meracau, mabuk berebut menusuk, memeluk dalam kancah yang : "Gemuruh meriuh dalam dada, berdebam suara membaur, gebalau kacau" pada penyerahannya [takluk yang mengerti] pada intaian dalam, "inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan [atawa dengan] kata yang mabuk" --- Lalu penyerahan itu : t u s u k l a h, tusuklah, t-u-s-u-k-l-a-h, tusuk klimaks atawa orgasme satu kata menuju [pusara masa lalu?] ; "Tusuklah dadaku tusuklah di mana saja kau mau di mana saja kau suka." Satu penyerahan yang sekaligus menantang maju. Memaksa satu pentas bayangan proses gelut, pergulatan antara dua kutub,[bak putaran yin-yang, yang tak pasti titik hentinya]; Karena proses ini merubah [menabrak] semua kemapanan, kebiasaan, dan keseharian; Maka terasa meluka, mencabik, mendobrak dan meluluhlantak ...... gebalau kacau, gulana gundah, ditikam pisau, kata-kata yang bergoyang pinggul, mata mabuk dan mula-mula berkunang kenangannya. Semua seperti merajut diakhirnya menjadi "demikianlah ia berbahagia.” Karena impas semua gebalau itu ternyata tetap sama pada kehidupannya yang tetap antara : Derita dan bahagia, atawa bahagia dan derita [yin-yang berputar tak tentu titik hentinya]. Mungkin keruk kehidupan bagi seorang penyair adalah dari itu ke itu, namun pada kreatifitasnya ada penyerahan, seperti laku satu doa maupun pengharapan. Disini letak hubungan manusia dan kemanusiaan yang terkadang membuat syair seperti rintihan maupun doa-doa biasa, yang bertele-tele tetapi mempesona. Namun dalam "demikianlah ia berbahagia" pembaca dipaksa melangit, membaca tubuhnya sendiri yang dicabik luka, dan kembali dengan dua kaki yang menginjak dua timbangan, antara derita dan bahagia atawa bahagia dan derita.

“Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam
Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka”

Hasilnya [sambil menangkup doa] : “O puncak derita bahagia!” ---- memang [hal] bahagia tidak berpuncak, cuma selalu selangit rasa .... Sementara [hal] derita selalu seperti bergaris horison yang naik turun. Berpuncak dan berdatar, serta mencolok rasanya seperti roller coaster.

Bukan main … ah nang, kau akhirnya tidak bujang lagi ---- he he he ------ rasanya sajakmu yang ini telah menasbihkan kehendak tuju, melangit dan selangit sekaligus berodagila. Roller koster.

Tabik pembaca,
Ben abel

/1/ [[[[[[ kena rabies si saut ]]]]],
/2/ [[[[ erotika ala nabidapur daripada tanahdatar heri latief ]]]]],

At 12:52 PM 5/2/2002 +0000, you wrote:
Demikianlah Ia Berbahagia

Gemuruh meriuh dalam dada, berdebam suara membaur, gebalau kacau
Hampa pandang, tatap kosong, o mata, ceritakan gulana gundah

Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam
Sampai puncak nyeri, hingga tak ada airmata, hingga tinggal tawa: luka

Demikian getir kekeh bahak memuncak puncak: oi sepi pukimak, peluk aku
Dan sepi memeluk dengan penuh gairah, menyayatnya dengan kenangan

Sambil menusuk hingga ke hulu, sepisau kenangan menari-nari kegirangan
Menggeliatlah menggeliatlah hingga kembali pada titik: mula-mula

Serangkum kata ikut menari, menggoyangkan pinggulnya ke sana ke mari
Meracau mabuk, berebut ingin ikut memeluk dan menusuk

O, inilah upacara persetubuhan manusia sepi dan kata yang mabuk
Tusuklah dadaku tusuklah di mana saja kau mau di mana saja kau suka

O puncak derita bahagia!

Depok, 2 Mei 2002




Telah Dialamatkan Padamu, Nanang Suryadi

Telah Dialamatkan Padamu, Nanang Suryadi

Oleh: Asep Sambodja

Ada sebuah potret yang memperlihatkan penyair Nanang Suryadi tengah membaca puisi. Ia mengenakan kaos oblong berwarna hitam bertuliskan Yayasan Multimedia Sastra (YMS). Dan puisi-puisi yang dibacakan berasal dari buku Graffiti Gratitude, buku antologi puisi pertama yang diterbitkan oleh YMS.

Totalitas! Saya melihat totalitas Nanang Suryadi sejak awal, ketika bersama kawan-kawannya menghidupkan sebuah situs sastra nusantara Cybersastra.net. Tidak saja menerobos dunia cyber yang dapat dikatakan masih baru bagi sastrawan Indonesia, tapi ia sendiri menghidupi situs sastra tersebut, hingga bertahan hidup hingga saat ini. Dan salah satu bahan bakar yang menghidupi Cybersastra.net adalah totalitas Nanang Suryadi dalam kehidupan sastra.

Saya sebenarnya malas memuji-muji orang, karena sering disalahtafsirkan sebagai pengkultusan. Padahal, tanpa pujian pun, sebenarnya sajak-sajak Nanang Suryadi telah mampu berdialog sendiri dengan pembacanya. Simak sajak Nanang Suryadi "Telah Dialamatkan Padamu", yang menurut saya menjadi foto rontgen kepenyairannya, sekaligus dapat ditangkap pula sebagai proses kreatifnya yang intens, yang juga menjadi judul buku kumpulan puisinya yang baru.

telah dialamatkan padamu sunyi lelaki, membaca huruf timbul tenggelam pada pelupuk, tak dilupa juga peristiwa demi peristiwa, berguliran

kemana kita akan sampai, buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik kertas terselip: aku merindukanmu

ah, omong kosong apalagi yang akan kutuliskan? seperti ada yang ingin diledakan di dadaku, ke dalam otakku

telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!

Bagi yang masih percaya pada kata, seperti dituturkan Sapardi Djoko Damono, diam adalah inti gejolaknya. Dan Nanang pun mempertanyakannya pada diri sendiri, "omong kosong apalagi yang akan kutuliskan?"

Ketika kata-kata menghujam (dialamatkan) pada Nanang Suryadi, kata-kata itu menjelma puisi: satu karya seni yang memerlukan intensitas dan totalitas dalam berkarya.

Ahmadun Yosi Herfanda melihatnya dari sudut religius, dan ia pun menemui sajak Nanang Suryadi "Penari Telanjang" sebagai sajak 'erotisme religius' karena munculnya kata-kata 'Kekasih' yang menggunakan huruf kapital, seperti juga pada kata Mu. (Di Indonesia memang sudah lazim penyebutan sapaan Tuhan dengan menggunakan huruf-huruf kapital).

Saya menghargai interpretasi dari sudut pandang yang diberikan Ahmadun, meskipun penggunaan huruf-huruf kapital seperti ini pasti akan menimbulkan reaksi bolak-balik dari Saut Situmorang.

Penilaian yang diberikan Ahmadun menjadi menarik, karena kalau kita bandingkan metafora yang digunakan Nanang Suryadi dengan Amir Hamzah, terlihat suatu perbedaan yang mencolok. Amir Hamzah mengumpamakan Tuhan sebagai gadis yang bersembunyi di balik tirai, sementara Nanang Suryadi menggambarkan Tuhan sebagai penari telanjang. Sama-sama religius, menurut kacamata Ahmadun, tapi daya ungkap kedua penyair berbeda.

Nanang Suryadi memiliki kemampuan yang menonjol dalam puisi-puisi liris, atau disebut sebagai puisi suasana oleh Goenawan Mohamad. Dalam satu tulisan di Milis Penyair, saya menyebut Nanang Suryadi, TS Pinang, dan Tulus Widjanarko sebagai The Three Musketeers sastrawan generasi cyber, karena ketiga penyair memiliki gaya yang tak jauh beda dalam menyulam kata. Berikut ini salah satu sajak liris Nanang yang terinspirasi dari calon istrinya.

Perempuan yang Bernama Kesangsian

o, perempuan yang bernama kesangsian, dibaca guguran senja pada bintik hitam, matamu.

sebagai engkau, berlari dalam hempas angin. hujan menderas dimana-mana. bukan juga airmatamu?

tak dikabarkan resah pada desah. karena musim berangkat tak menunggu.

dimana kan dikuburkan gulana. tak terpeta.

Membaca sajak-sajak Nanang Suryadi dalam kumpulan sajaknya yang baru, Telah Dialamatkan Padamu, kita seperti merasakan sedang mencintai seorang perempuan, kekasih, atau Kekasih dengan susah payah. Dalam proses mencinta yang penuh perjuangan itulah kita menikmati kelembutan perasaan seorang Nanang Suryadi, penyair dari Pulomerak. ***

Citayam, Ramadhan 2002



O Sajak O Apa O



Oleh: Agustinus Wahyono

Semula, setelah menikmati ‘kata pengantar’, saya membuka sajak-sajak dalam buku Telah Dialamatkan Padamu secara cepat dan segera berlembar-lembar. Dari membaca cepat dan berlembar-lembar itu beberapa kali saya diperhadapkan dengan sebuah kata. Kata “O” (huruf vokal, ataukah juga malah bukan huruf melainkan angka nol?). Dari satu “O” berloncatan ke “O” lainnya; baik dalam satu sajak maupun berpindah ke sajak lainnya.

Ada apa dengan “O”, kok suka sekali sang sajakis memakainya, pikir saya penasaran.

Berikut-berikutnya saya pun menemukan sajak berjudul “O Mata”. Ya, “O Mata”, tampak jelas memakai kata “O” di daftar isi dan di halaman 18. Saya semakin penasaran saja, ada apa dengan “O”; apa yang hendak disampaikan oleh sajakis Nanang Suryadi (NS) melalui sajak-sajaknya.

Maka, karuan saja saya cari jejak-jejak “O” pada sajak-sajak NS dalam antologinya itu. Satu per satu saya baca baik-baik, lalu saya hitung. Ternyata dari 99 sajak dalam buku tersebut terdapat 24 sajak atau 24,24% yang mengandung kata “O”. Astaga!

Hasil temuan saya: O waktu (“Yang Menyimpan Rindu”, hlm.13 ), O siapa dapat membaca (“Sketsa Jejak”, hlm.15 ), O diri (“Bagaimana Diterjemah”, hlm.16 ), O mata (“O Mata”, hlm.18), O, ribuan cahaya (“Perempuan Pagi Berwajah Puisi”, hlm.27), O lambai (“Ziarah Kenangan”, hlm.28), O alun (“Symphony No.40 in G Minor”, hlm.29), O yang menjangkau hatimu (“Sebagai Upacara”, hlm.35), O perempuan (“Perempuan yang Bernama Kesangsian”, hlm.37), O santapan terlezat (“Inilah Hujan di Saat Senja”, hlm.54), O langit yang biru (“Bayang”, hlm.65), O kekasih dimana (“Kata yang Terpatah”, hlm.74), O parau jerit (“Persembahan Darah”, hlm.79), O diri hingga tumpas (“Langit Tumbang”, hlm.80), O langit siapa (“Membaca Darah”, hlm.81), O kekasih diri (“Dimana Engkau”, hlm.83), O cahaya maha cahaya (“Tawanan Cahaya”, hlm.84), O silau cahaya (“Tualang”, hlm.86), O mimpi yang membusuk (“Kenang”, hlm.96), O manusia (“~~~~~~~~~++”, hlm.99), O rindu mengaduk (“Menemu Pukau Rindu”, hlm.105), O mata tersilau (“Takluk”, hlm.106), O kesah siapa (“Dan Akupun Menyerah”, hlm.107), dan O inilah upacara (“Demikianlah Ia Berbahagia”, hlm.108).

Selanjutnya, saya menghitung berapa kali kata “O” itu disebutkan. Walhasil saya menemukan sebanyak 41 kali kata “O” ditorehkan sang sajakis NS pada kumpulan sajaknya, misalnya o waktu, o siapa, o diri, o mata, o ribuan cahaya, o lambai, o pijar, o alun, o yang menjangkau, o perempuan, o mimpi, o santapan, o hidangkan, o daging, o langit, o angin, o kekasih, o engkau, o parau, o yang rindu, o cahaya, o silau, o manusia, o rindu, o mengalir, o kesah, o inilah upacara, o puncak, dan lain-lain.

Ada apa ini, kok cukup banyak “O”-nya (apakah itu betul-betul hanya kata, ataukah justru sebuah bilangan “0” alias nol alias kosong)?
***

Kata “O”, menurut Poerwadarminta (1986), adalah kata seru yang menyatakan heran dan sebagainya. Biasanya, kata tersebut diucapkan atau diekspresikan dengan mimik wajah melongo, sepasang bibir membulat. Tak jarang kata “O”-nya disuarakan agak panjang menjadi “Ooo…”. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari, sebagian orang Jawa sangat umum dengan ungkapan semisal “O walah, jebulnya Sampeyan to” ( o walah, rupanya Anda ya).

Korelasi dalam sajak-sajak NS, kata “O” untuk menyatakan heran tersebut saya contohkan pada cuplikan sajak “Perempuan Pagi Berwajah Puisi” (hlm.27).

Aku merindukanmu, katamu, pada pagi dimana puisi meronta meluncur mendesak
menghancur melumat memabukanku. Dengan terbata kubaca sepi di wajahmu yang puisi. O,
ribuan cahaya. Berangkat dari pelupuk mata.

Kata “O” tersebut adalah seruan keheranan yang manusiawi tatkala sang sajakis tengah dirundung rindu, dimabuk puisi pagi, dan membaca sepi pada seraut wajah. Namun, tiba-tiba yang terkuak justru ribuan cahaya alias sesuatu yang tidak disangka-sangka. O, ribuan cahaya. Bagaimana bisa dari kesepian yang merias wajah puitis gadis itu, sang sajakis malah menjumpai ribuan cahaya yang beranjak dari pelupuk mata gadis itu. Pada kesempatan tersebut sang sajakis laksana mendapatkan mutiara pada tempat sepi senyap. Kerinduanlah yang membuat sang sajakis sudi meluangkan waktu dan berusaha sampai ‘terbata’ menyimak sepi itu, sehingga hasilnya pun di luar dugaan.

Hal lain yang sebenarnya kontekstual adalah dimensi waktu, yakni “pada pagi”. Pagi adalah ekspresi kegirangan mentari saat memulai tugas rutinnya. Warna cahayanya umumnya kuning cerah. Namun, pada ‘kasus’ yang dialami sang sajakis, justru “ribuan cahaya”. Wajar saja jika kemudian dia terkejut seraya berucap, “O, ribuan cahaya.”

Dalam pemahaman imajinasi verbal saya terhadap teks sajak NS yang lain, kata “O” bisa juga sepadan dengan kata seruan bersifat teguran “wahai”. Misalnya, “O manusia, dimana kau tahu segala rahasia” (“---~~~~~~++”, hlm.99) yang saya padankan menjadi “wahai manusia, dimana kau tahu segala rahasia”. Kata “O” dalam padanan dengan kata “wahai” memiliki kedekatan makna, bahkan bermakna tunggal. Dari kemanunggalan makna tersebut “daya magis” akan terasa benar-benar lebih mendalam dengan memakai kata “O” ketimbang sekadar datar memakai kata “wahai” yang berkesan formal dan normatif.

Dalam pergaulan sehari-hari, kata “O” dalam padanan kata “wahai” kerap diujarkan antarorang. Kata “O” telah menjadi sebutir kalimat yang berkekuatan, meski sebatas dalam imajinasi saya sendiri. Biasanya, setahu saya, kata “O” ini menjadi jembatan untuk memulai suatu ungkapan semacam mengadu (wadul; bhs Jawa), memberitahukan atau minta petunjuk atas sesuatu. Sebagian orang Bangka (karena saya berasal dari Bangka) acap menggunakan kata “O” manakala mereka hendak menyampaikan, semisal, “O, Mak, kemarin aku tengok orang bekelai di kantor polisi.” Pelafalan “O, Mak” dilakukan dengan nada direndahkan sedikit dan pada kata “Mak” dinaikkan. Kata “O” dan “Mak” dibaca langsung—seakan-akan tanpa jeda, sehingga menjadi “O-Mak”.

Saya merasakan bahwa ungkapan “O” sepadan dengan sapaan “Wahai” atau pertama kali pada sajak “Yang Menyimpan Rindu” (hlm.13).

Mengenangmu, menandai penanggalan, hari-hari demikian lambat
O waktu, siapa yang mengarungi laut gelombang, hingga ke tepian merapat

Tampak bahwasannya sang sajakis bertanya kepada “waktu” (sejarah, masa lalu, bilangan masa). Dia langsung mengadu kepada “waktu”, sebab di sanalah terpahatkan “kenangan yang menyimpan rindu”. Kata “O” tersebut sepadan dengan “wahai” atau juga seperti contoh “O, Mak” pada kebiasaan mengadu atau menyampaikan sesuatu.

Kasus lain yang juga menarik bagi saya, adalah ketika saya mencoba membunyikan sebagian cuplikan sajak “Membaca Darah” (hlm.81).

o, langit siapa yang masih menyimpan mesiu
gemuruh dendam menumbang cinta

o, langit siapa yang tak membaca
dunia semakin kemarau terasa

Dalam benak saya, pengucapan sajak tersebut mengandung dua perbedaan nada. Pertama, “o” sebagai nada heran alias ekspresi keheranan sang sajakis setelah melihat ‘langit’. “o, langit siapa yang masih menyimpan mesiu”. Kata “O”-nya diucapkan pendek saja. Kesan yang tampak hanyalah sekilas sebuah ungkapan keheranan sekaligus mempertanyakan sesuatu kepada “langit” (langit itu sendiri sebagai saksi, atau Tuhan) yang sekilas saja.

Kedua, “o” sebagai ungkapan yang ‘mempertanyakan’ (menggugat), menegur, ‘menyapa’ atau mengadu (minta petunjuk). Pada bagian ini pengucapan kata “O” dilakukan dengan nada yang memperpanjang bunyi “o” menjadi “ooo…” yang sebenarnya juga berarti “wahai…”. Teguran ini, mungkin, ditujukan sang sajakis untuk menarik kembali nurani pembaca (baca: pelaku pertempuran dengan memakai mesiu) dari ketenggelamannya dalam keangkuhan tabiat manusia. Kata “O, langit” itu terasa mendalam jika dilakukan penekanan nada pada kata “O” dan “langit”. Dari imajinasi saya pun saya telah bisa merasakan kedalaman kata “O” tersebut.
***

Pada pengertian lain, saya menduga bahwa kata “O” pun berawal dari kata “Oh”. Kata “Oh”, menurut Poerwadarminta, merupakan kata seru yang menyatakan kecewa, menjadi yakin, dan sebagainya. Dengan kata lain, kata “Oh” merupakan suatu ungkapan reaktif untuk menyatakan: (1) keheranan terhadap kepada sesuatu yang di luar dugaan, (2) respon tersadar, semakin atau menjadi yakin/percaya, dan (3) kekecewaan atas sebuah ironi.

Satu masa, saat membaca kata “O” demi “O” itu seketika saya teringat pada kumpulan puisi O dan O Amuk Kapak-nya Sutardji Calzoum Bachri (SCB). “….oku okau okosong orindu okalian obolong orisau oKau O…” (Sajak “O”-nya SCB). Yang lantas menyeruak dalam benak saya adalah kemiripan pada pengulangan kata “O” antara sajak “O” SCB dan sajak-sajak NS. Barangkali hanya suatu kebetulan belaka.

Sudah barang tentu, membaca teks sajak bukanlah sebatas melihat huruf demi huruf, lalu selesai dan tutup buku habis perkara. Jelas tidak sesederhana dan sekelebat begitu saja. Kendati saya tidak terlalu menggandrungi gegap-gempita ataupun kekhusukan jagad kepenyairan, saya mencoba menikmati sajak-sajak NS itu sembari membayangkan seolah-olah Sang Penyair Besoar (julukan saya untuk sajakis NS) itu tengah membacanya di panggung, di hadapan saya dan di hadapan jibunan orang.

Maka, dari imajinasi rekaan tersebut saya berpendapat bahwa kata “O” akan lebih menarik, hidup dan kuat maknanya apabila dibacakan langsung (dengan suara); oleh sang sajakis sendiri ataupun oleh pembaca sajak yang tepat. Sebab, dengan intonasi yang tepat, kata “O” bukan sekadar kata dalam satu persepsi, melainkan berefek pada persepsi-persepsi lainnya sehingga menimbulkan efek kesan yang bagus, hidup, magis. Paduan antara kata dan suara serta dibacakan dengan nada-nada yang berbeda untuk kata “O” yang sama, bagi saya pribadi, akan semakin memperkaya imajinasi pembaca, terlebih jika pembacaannya di panggung dilakukan lebih dari dua orang dengan nada berbeda untuk satu judul sajak.

Di sinilah, melalui kata “O” dalam sajak-sajaknya, sang sajakis seakan-akan tengah membuat atau menghidupkan semacam dialog entah kepada siapa saja–termasuk pada dirinya sendiri (O diri!). Kata “O” berpotensi menghidupkan sajak-sajak tersebut dari jebakan kuburan tekstual/aksara sunyi. Di samping itu, dia pun tampaknya sengaja menawarkan beragam persepsi terhadap satu sajak tekstual; apakah suatu ungkapan rasa heran, rasa kaget, rasa kian percaya/yakin, ataukah rasa kecewa atas ironi. Tinggal bagaimana para pembaca kreatif membacakannya dengan suara masing-masing, atau sekadar mengimajinasikannya. O Sedap sekali!***

Telah Dialamatkan padamu Sepilihan Sajak Nanang Suryadi

Telah Dialamatkan padamu Sepilihan Sajak Nanang Suryadi

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Membaca judul buku kumpulan puisi Nanang, selintas kita sudah terikat pada kata "sepilihan", sebuah kata yang mengisyaratkan adanya kesatuan atau jumlah satu. Barangkali saja penyair akan mempunyai dua atau sekian pilihan. Penggunaan kata yang menabrak kaidah bahasa Indonesia ini akan kita jumpai dalam 100 sajak Nanang yang terpilih dalam buku puisi ini. Nanang sangat suka mengerjai kata dalam sajak-sajaknya dan ini merupakan hak penyair yang dikenal dengan poetic license. Untuk sekadar contoh, kita simak puisi-puisi berikut.

terjemah kehendak, pada langit luas
…………………………………………

mungkin cuma gurau melupa duka, karena
…………………………………………

berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata
(Sajak “Intro”)

Dalam darah buncah meruah gelombangkan gelisah kalut
Seperti laut dalam tatapmu memagut. Demikian gairah meniada rasa takut
………………………………………
Ada ruang kosong. Keheningan. Jika engkau demikian lelah. Masuklah.
Ada ruang sepi. Menemu diri sendiri. Menemu arti di balik bunyi di
balik sunyi.

Tapi engkau di situ. Ingin melebur amarah. Hingga remah. Dalam api.
Mempuing jadi.
(Sajak “Dalam Sajak”)

Sebagai cakrawalaharapku, lengkung alis matamu
Binar mata, berkas bintang-bintang mencahaya, demikian rindu
(Sajak “Yang Menyimpan Rindu”)

seperti kuseka malam dari pipimu, mungkin tak dicatat, tapi sebuah
ingatan,
tentang bola mata, melari
(Sajak “Seperti Kuseka Malam”)

malam telahkah demikian larut, dalam anganmu
dimana cermin diletak, wajah masai tak tampak
(Sajak “Seorang yang Melihat Sepi”)

demikian jeram dan matamu ingin dipejam
(Sajak “Tari Bulan”)

kemana akan pergi
menujumu atau menemu kesunyian kembali
(Sajak “Catatan May”)

Di bening mata, arus demikian deras
Di dasar memusar
(Sajak “Namun Engkau”)

Siapa berlari dari pasti, tuan, kata seseorang menyapa
Seperti tak ditahu kemarau meranggaskan dada
(Sajak “Cahaya Kemarau Kabut”)

……………………………………
……………………Airmata mengalir
menyungai menganak pinakmencari muara. Melautlah kesediahan.
Melautlah!

……………………………………
……………………………………
Airmata mengalir menyungai menganak pinakmencari muara. Melautlah
kesediahan. Melautlah!
(Sajak “Dongeng Impian yang Dihancurkan”)

Bayang datang sebagai kenang dari lampau yang mengekal
(Sajak “Bayang”)

seseorang melayarkan pikiran, pada sungai yang deras, laut
bergelombang, badai angina, ia menemu carut marut, luka nganga
(Sajak “Dongeng Keledai”)

……………………………………
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam
dalam
(Sajak “Berhentilah!”)

Sepilihan 100 puisi diawali dengan “Intro” dan ditutup dengan “Epilog”. Nanang yang lahir di Pulomerak 30 tahun yang lalu telah mengumpulkan sajak-sajaknya di beberapa buku kumpulan bersama maupun kumpulan sendiri (14 antologi bersama penyair lain dan 4 buku pribadi). Itu masih ditambah dengan sajak-sajaknya yang tertebar di dunia maya atau cyber karena Nanang banyak bergerak di dunia maya atau pengguna jasa internet.

Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Untuk memulai dialog dipilihkan sajak andalan atau sajak sampul karena digunakan sebagai judul buku.

Telah Dialamatkan padamu

telah dialamatkan padamu sunyi lelaki, membaca huruf timbul tenggelam
pada pelupuk, tak dilupa juga peristiwa demi peristiwa, berguliran

kemana kita akan sampai, buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik
kertas terselip: aku merindukanmu

ah, omong kosong apalagi yang akan kutuliskan? seperti ada yang ingin
diledakan di dadaku, ke dalam otakku

telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga
makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!

Dari penanggap yang tercetak di kulit buku, terutama pengantar buku puisi Nanang, AhmadunYosi Herfanda dengan mendasarkan sajak “Penari Telanjang” bernafaskan religius yang erotis (Widodo Arumdono, Donny Anggoro) selain penuh cahaya dan mengalir bagai air (Ben Abel, Kurnia Effendi). Dan ini tampak pada sajak-sajak yang mengisyaratkan kedekatan pada Yang Maha Segala sebagaimana upaya hamba-Nya mencoba menyapa dengan rintihan, bahkan kadang dengan tangisan dalam gelisah mencari makna cinta: ke mana kita akan sampai, buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik kertas terselip: aku merindukanmu

terjemahan kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdetaman, dalam dada
(Sajak “Intro”)

Demikian, sunyi tak terbagi
Milikmu sendiri
(Sajak “Epilog”)

Tapi kau tetap sebuah sunyi
Menyimpan rahasiamu sendiri
(Sajak “Kau Katakan Mengenali Jejak”)

aku merindukanmu, katamu, pada hari yang senyap, tak ada bunyi
memecah dinihari, pagi dimana gelisahku sampai pada wajahmu. puisi
(Sajak “Perempuan Pagi Berwajah Puisi”)

Subagio Sastrowardoyo (1980) menyatakan bahwa Penyair bersuara dalam sajak. Ia ingin membayangkan dirinya di dalam kata-katanya. Ia tidak puas sebelum dirinya terucapkan sepenuhnya di dalam sajak. Karena itu ia ingin tak putus-putus menulis sajak. Lihatlah sajak-sajak:

telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam, mungkin juga
makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!
(Sajak “Telah Dialamatkan padamu”)

tak henti-henti ditanya diri
………………………………
………………………………
terlalu lama aku berdiam diri
(Sajak “Catatan May”)

kau gigil menatap arah tak tentu angin berputar cuaca begantian arah
tuju.
aku
(Sajak “Tik Tak Tik Tak: 01:05”)

di rumah sendiri, di tubuh sendiri, sedekat nadi, dalam nadi
kucari-cari: diri dimana diri
(Sajak “Tak Sampai?”)

Ke dalam diri ke luar diri
Menembus batas segala mimpi
(Sajak “Epilog”)

di garis tangan, di peta langit, di alis matamu
o manusia, dimana kau tahu segala diri
(Sajak “- - - ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ”)

Sajak-sajak Nanang cukup beragam warna pribadi, untuk tidak menyebut pengaruh penyair yang lebih dahulu menggunakan daya ungkap khususnya semisal Sutarji C.B., Sapardi D.D., Goenawan M., Hamzah F., Afrizal M., maupun Rendra. Keseringan kita berdialog dengan pribadi sajak penyair yang dahulu sering menimbulkan resonansi atau getaran pada pemunculan pemilihan kata dan daya ungkap. Tetapi, Nanang mempunyai gaya ungkap dengan mengulang kata, frase, bahkan kalimat yang sama untuk memberikan kesan keberuntunan atau kontinuitas semacam gaung atau gema yang menjadikan sajaknya bersuara mengaung-ngaung. Kita lihat kutipan beberapa sajak itu.

Mabuk aku
Tarian-Mu memutar planet beterbangan

Mabuk aku
Tarian-Mu melesatkan bintang berpijaran

Mabuk aku
Tarian-Mu mumasarkan galaksi beraturan

Mabuk aku
Tarian-Mu meliukkan semest berputaran

Mabuk aku
Dalam tarian-Mu tersungkur aku bertanyaan
(Sajak “Mabuk Tarian”)

dibakar-bakar sepi, diamuk api
diri merangka, puing menjadi

"embunlah! embunlah!"

………………………………

kau kira! kau kira!
(Sajak “Sepi yang Membakar”)

kita berjalan tanpa bertanya-tanya lagi, …………
………………………………
kita berjalan, tanpa bertanya-tanya lagi, dimana tepi, dimana sepi
(Sajak “Kita Berjalan”)

Engkau ditikam sepi, engkau ditikam rindu, engkau ditikam
……………………………
Menggeliatlah menggeliatlah hingga kembali pada titi: mula-mula
(Sajak “Demikianlah Ia Berbahagia”)

setiap senja, setiap senja
(Sajak “Memandang Senja”)

wajahmu! wajahmu!
………………………
………………………
dalam dada! dalam dada!
(Sajak “Kenang”)

……………………………
Di padang padang buru di tebing tebing cuaca
(Sajak “Epilog”)

………………………………
Ingatn yang tak kikis habis, di badai-badai sampai, di terik-terik
Matahari
(Sajak “Menemu Pukau Rinduku”)

………………………………
melindaplindap cahaya di jauh jauh pandang
(Sajak “Gapai”)

Ketersinggungan kreatif Nanang dalam proses memuisi atau menyajak memunculkan sikap sajak yang bersih dan tanpa bayang daya ungkap pendahulunya yang justru menunjukkan sajak asli Nanang. Sayang, Nanang karena kurang intensitas pada penggalian diri, bahkan lebih tampak menggali sajak penyair lain dengan cara lewat short message service (SMS), chatting di dunia maya, dan rajin memantau mailing list dan situs-situs yang bertebaran aroma sastra. Sajak Nanang yang berdaya ungkap pribadi tampak pada pengulangan kata atau frasa maupun kalimat.

Coba simak sajak-sajak dengan judul “Kita Berjalan”, “Bebuahan Cahaya”, "Sketsa Peta Tak Bernama”, “Inilah Hujan di Saat Senja”, “Imaji yang Betanggalan”, “Black Hole”, “Memory pada Sebuah Jalan”, “Seperti Sebuah Risau”, “Mungkin Kau adalah Angin”, “Seorang yang Merangkai Bunga”, “Seperti Kuseka Malam”, “Perempuan yang Bernama Kesangsian”, “Jam yang Menyerpih”, “Sebagai Upacara”, “Mencintaimu adalah Mencintai Aliran Air tak Henti Mengalir”, dan “Seperti Engkau yang Gemetar”.

Selain sajak yang berhasil mempribadi dengan mengesampingkan pengaruh luar pribadi Nanang juga ditemukan sajak yang boleh dikatakan gagal atau belum terpoles karena proses kreatif Nanang tidak melewati editing atau bacaulang, bahkan lebih sering spontan dan instant. Nanang jarang mendaur-ulang sajak seperti yang dilakukan Ikra Negara, Chairil Anwar, maupun Subagio Sastrowordoyo yang menimbulkan beberapa versi sajak-sajaknya (baca Wahyu Wibowo (1984) dalam buku Menyingkap Dunia Kepenyairan Subagio Sastrowardoyo). Inilah sajak Nanang yang gagal menyarankan pikiran-pikirannya: “Dongeng Keledai”, “Berhentilah!”, “Yang Dibakar Api Murni”, dan “=Aiueo? Kosa Kata =”.

Beberapa sajak dengan judul yang unik, seperti “- - - ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ”, Symphony No. 40 in G Minor”, “23.30”, “Tik Tak Tik Tak: 01:05”, “Black Hole”, “Cahaya Kemarau Kabut”, dan “=Aiueo? Kosa Kata =”.

Seperti Nanang sedang mencari daya ungkap lewat judul sajak, Cuma akhirnya mengurangi daya saran dan kekhasan Nanang. Sajaknya menjadi abu-abu bahkan gelap selayaknya gaya sajak Goenawan yang katanya sajak gelap, tetapi hanya terbatas pada judul saja kalau tidak mau dikatakan bermain-main.

Sebagai penutup kita baca sajak yang cukup mengesankan:

Epilog

Sempurnalah sempurna segala ingin
Di ambang surup matahari mendingin

Demikian, sunyi tak terbagi
Milikmu sendiri.

Boo/febawal/03



Suryadian, Berkubang di Alamnya Sendiri

Suryadian, Berkubang di Alamnya Sendiri

Oleh: Jibsail


Penyair bermain dengan kegalauannya, itu biasa. Penyair bermain dengan kerinduannya, itu biasa. Penyair bermain dengan kesunyiannya, itu biasa. Bahkan tidak ada yang luar biasa ketika penyair berkubang dengan suka dan perihnya cinta yang dia rasakan.

Berangkat dari biasa dan tidak adanya keluarbiasaan itu, adalah kita. Seberapa jauh kita berani membenamkan diri untuk menelusuri dan menyelami yang biasa dan tidak luarbiasa itu? Keberanian tersebut adalah kerapuhan. Dan kerapuhan dari keberanian tersebut adalah yang moment buat kita untuk hidup tangguh.

Jadi, kerapuhan bukanlah petaka atau sumber dari segala bencana. Kerapuhan adalah mukjizat inspirasi; sumber dari segala improvisasi, seperti ketika penyair bermain dengan alamnya sendiri. 'Alam sendiri' adalah fenomena bahwa tidak ada yang lebih hebat di jagad ini. Tidak ada hal lain yang sanggup demikian kuat untuk berbuat sesuatu.

Ada jalur yang begitu jelas antara "penyair yang bermain dengan alamnya sendiri" dan "penyair yang bermain di alamnya sendiri". Karena ini bukan suatu dialektik, akrobrat multifungsi, atau permainan sulap dari susunan kata-tata bahasa.

Tapi, inilah embrio dari segala yang mahabiasa, dari segala yang maha di luar, tersirat di bawah alam sadar kita, yang tidak begitu saja 'menemu' ketika kita dengan berani bahkan nekat sekalipun ... terjun bebas menelusur, menyelam hingga terbenam ... dan kemudian sadar bahwa kita telah begitu saja sesaat rapuh di alam yang entah milik siapa; itulah hasil kerja (an) Nanang Suryadi.

Suryadiannya Nanang Suryadi:
Masih Kulihat Rembulan di Antara Sihir Lampu
buat: Kunthi Hastorini

masih kulihat rembulan, cahayanya yang kuning keemasan, menggoda ingatanku,
kepadamu. di antara lampu-lampu merkuri dan sorot kendaraan, aku takjub
memandang langit, rembulan yang terang cahayanya.

aku ingat engkau sayangku, dan ribuan kata-kata berloncatan ingin menjelma
puisi.

puisi menjelma dari sepotong film animasi. dunia kanak-kanak yang menjadi
kenangan. bayangkan kita memandang rembulan dan mengaung, sebagai serigala,
yang menggetarkan langit dengan jerit yang teramat sedih.

mungkin rindu.
pada kekasih di langit yang jauh. di negeri yang jauh. di angan yang rapuh.

malam ini, sayangku, aku ingin kau tatap rembulan, terang cahayanya.
seterang cinta kita yang menerang langit.

demikian purnama.

-------------
Guntur 18 Desember 2002, Malabar 19 Desember 2002